Belajar Prinsip Kehidupan Lewat Sastra Makassar
Oleh Administrator

Belajar Prinsip Kehidupan Lewat Sastra Makassar

03 Juni 2021  |  Resensi

Belajar Prinsip Kehidupan Lewat Sastra Makassar

oleh: Kresentia Madina Jelangdeka

Judul Buku : Sastra Kelong: Menyibak Literasi PendidikanBerdasarkan Budaya Lokal

Penulis : Labbiri

Penerbit: CV Kanaka Media

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman : vi + 111 hlm.

ISBN: 978-623-7029-09-0

Selayaknya seorang individu, penting bagi sebuah bangsa untuk memiliki identitas dan karakternya sendiri. Sebuah bangsa yang berkarakter akan bisa berdiri dengan tegak di atas fondasi yang kokoh. Bagaimana kita bisa mendukung perjalanan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan berkarakter? Kita bisa menengok salah satu cara yang ditawarkan oleh Labbiri dalam bukunya yang berjudul Sastra Kelong: Menyibak Literasi Pendidikan Berdasarkan Budaya Lokal,yakni pendidikan karakter lewat sastra lokal khas Makassar.

Labbiri adalah seorang pendidik yang memiliki ketertarikan besar terhadap budaya lokal dan nilai-nilai religiusitas. Dalam sepuluh tahun terakhir, beliau telah menerbitkan dua buku lain yang juga bertemakan sastra daerah Makassar dan pendidikan karakter. Bukunya yang ketiga ini menjadi buku yang terpilih dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal 2020 milik Balai Media dan Reproduksi (LIPI Press) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kali ini, Labbiri mencoba mengulas nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra lokal Makassar Kelong dan Pappasang. Terdiri dari empat bagian, buku ini memberikan pemahaman yang komprehesif tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam Kelong dan Pappasang, serta fungsi-fungsinya di tengah masyarakat.

Kelong dari Segi Fungsi dan Jenis

Agar bisa memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam Kelong, tentu kita harus lebih dulu memahami apa itu Kelong. Bagian pertama dari buku ini memperkenalkan pembaca kepada Kelong, yang merupakan pantun dan puisi khas Makassar. Kelong adalah sebuah produk sekaligus perekam budaya yang mengandung banyak nilai kebudayaan dan prinsip kehidupan. Oleh karena itu, Kelong dan Pappasang dapat menjadi menjadi acuan serta sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.

Bagian kedua berhasil menjabarkan secara detail fungsi-fungsi dari Kelong. Labbiri berpendapat bahwa Kelong memiliki fungsi sebagai media pendidikan, media hiburan, dan media komunikasi. Ada banyak nilai agama Islam, seperti makrifat, tobat, dan salat yang terkandung dalam baris-baris Kelong. Tak lupa, disebutkan pula konsep-konsep budaya masyarakat Makassar, seperti reso (bekerja dengan tekun) dan sunggu (bahagia, makmur, dan tenteram) sebagai nilai sosial-kemasyarakatan yang terkandung dalam Kelong. Labbiri menyertai penjelasannya dengan contoh bait dan baris Kelong yang relevan serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami poin-poin yang hendak disampaikan. Fungsi Kelong selanjutnya adalah sebagai media hiburan. Buku ini mengutip salah satu Kelong yang populer di kalangan anak muda, yakni KelongBattu Ratemak ri Bulang. Kelong ini sering dilantunkan berganti-gantian setiap baitnya sehingga bisa menghidupkan suasana menjadi lebih semarak. Terakhir, Kelong adalah sarana komunikasi antara masyarakat masa lampau dan masa kini. Labbiri melihat Kelong sebagai sebuah cara masyarakat masa kini untuk bisa memahami nilai dan perjuangan masyarakat dahulu, dengan harapan bahwa generasi sekarang dapat menerapkan semangat juang yang sama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Layaknya sebuah buku harian, Kelong seakan menjadi alat perekam prinsip hidup dan pemikiran-pemikiran brilian orang-orang bijak zaman dahulu, yang nantinya dapat dibuka dan dibaca lagi oleh masyarakat masa kini.

Bagian ketiga dari buku ini berperan sebagai sebuah katalog dari beragam jenis sastra Kelong. Kekayaan Kelong semakin jelas terasa saat kita melihat bahwa Kelong dapat dibagi ke dalam banyak sekali kategori, yakni menurut usia, sifat, lapangan pekerjaan, dan lokasi pemakaian. Sama seperti bagian sebelumnya, setiap kategori disertai dengan contoh Kelong beserta terjemahannya. Namun berbeda dari sebelumnya, tidak semua Kelong dilengkapi dengan konteks dan penjelasan sehingga ada beberapa jenis Kelong yang mungkin kurang bisa dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat di luar Makassar.

Warisan Nasihat dari Leluhur di Dalam Pappasang

Bagian terakhir dari buku ini menyoroti nilai-nilai pendidikan yang ada dalam karya Pappasang. Merupakan sastra lisan khas Makassar, Pappasang Turiolo (biasa disingkat Pappasang) berisi nasihat, wejangan, atau petuah leluhur yang diwariskan dari mulut ke mulut. Pada umumnya, Pappasang dijadikan sebagai kaidah dan pedoman hidup masyarakat, baik dalam bentuk undang-undang, kode etik, maupun norma kesusilaan. Labbiri menilai pentingnya pengusungan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam Pappasang agar generasi muda bisa tergerak untuk lebih mencintai budayanya sendiri.

Bagian keempat juga menyajikan beragam nilai yang terkandung di dalam Pappasang, salah satunya nilai sirik. Nilai karakter sirik merupakan nilai budaya masyarakat Makassar yang mengajak masyarakat Makassar untuk bisa mempertahankan kehormatan diri sendiri serta keluarga. Ada juga konsep pengiring sirik, yakni pacce yang berarti pedih. Lewat pacce, masyarakat Makassar diajak untuk menjalani hidup dengan sikap perikemanusiaan yang tinggi, tidak hanya terhadap manusia, namun terhadap semua makhluk. Selain nilai karakter sirik dan pacce, bagian ini juga mengulas nilai-nilai lain yang terdapat di dalam Pappasang, yakni nilai kejujuran, nilai keagamaan, nilai kepemimpinan, serta nilai persatuan dan kerja sama. Semuanya merupakan nila-nilai dasar kehidupan yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam bermasyarakat.

Menariknya, Bagian keempat diakhiri dengan pernyataan mengenai relevansi nilai-nilai dalam Kelong dan Pappasang dengan Gerakan Nasional Penguatan Pendidikan Karakter yang dicanangkan oleh Kemendikbud. Namun sayang, pembahasan poin ini hanya berhenti pada harapan penulis akan pengintegrasian nilai pendidikan karakter dan budaya dalam kurikulum pendidikan. Akan lebih menarik jika pernyataan ini dilanjutkan dengan penjelasan lebih jauh tentang peran Kelong dalam pendidikan karakter di sekolah sehingga relevansi Sastra Kelong dan Pappasang dalam kehidupan semakin kentara.

Belajar Hidup dari Kelong dan Pappasang

Buku Sastra Kelong: Menyibak Literasi Pendidikan Berdasarkan Budaya Lokal berhasil membawa pembaca ke dalam penjelasan-penjelasan menyeluruh seputar nilai-nilai yang terkandung dalam Kelong dan Pappasang, serta fungsi-fungsinya di tengah masyarakat. Adanya contoh-contoh bait Kelong yang relevan serta terjemahannya membuat penjelasan dalam buku semakin mudah dimengerti. Buku ini juga sukses menampilkan ragam kekayaan masyarakat Makassar, mulai dari karya sastra sampai nilai-nilai sosial. Meskipun begitu, ada beberapa Kelong yang dihadirkan tanpa konteks dan penjelasan sehingga agak lebih sulit dipahami. Lebih lanjut, meski pembaca sudah mendapat fakta menyeluruh tentang fungsi dan aneka ragam Kelong dan Pappasang, hubungan antara nilai dan fungsi tersebut terhadap pendidikan karakter di Indonesia hanya disinggung secara sekilas di awal dan akhir buku sehingga masih terkesan samar.

Tidak adanya konteks dan penjelasan di beberapa bagian buku tidak menutupi fakta bahwa buku ini adalah salah satu buku yang ingin pembaca cari ketika ingin belajar lebih lanjut tentang Kelong dan Pappasang. Buku ini hadir untuk membawa generasi muda untuk kembali mengenali dan memahami sastra lokal khas Makassar agar kelak bisa menjadi generasi yang besar dan memiliki jati diri.

Buku ini bisa dinikmati secara bebas melalui tautan ini: https://lipipress.lipi.go.id/detailpost/sastra-kelong-menyibak-literasi-pendidikan-karakter-berbasis-budaya-lokal

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi