De Zeven Provinciën: Ketika Kelasi Indonesia Berontak 1933
Oleh Administrator

De Zeven Provinciën: Ketika Kelasi Indonesia Berontak 1933

28 September 2015  |  Buku

Penulis J.C.H. Blom dan Elly Touwen- Bouwsma
Editor : Els Bogaerts
     

Pada tahun 1930-an dunia mengalami apa yang disebut zaman malaise, krisis ekonomi. AKan tetapi ketika itu pula pergerakan politik kebangsaan yang radikal menaikkan aktivitasnya. Ketika itu pulalah de Jonge, Gubernur Jenderal, yang konservatif, bukan saja mengadakan penghematan anggaran belanja Hindia Belanda, tetapi juga-dan lebih penting-melakukan pengekangan pergerakan kebangsaan. Di zaman malaise ini beberapa pemimpin pergerakan yang terkemuka seperti Sukarno, Hatta, dan kawan-kawan ditangkap-tanpa pengadilan, diasingkan.
Dalam suasana ketegangan sosial, politik dan ekonomi inilah pula peristiwa yang tidak terduga terjadi-kelasi-kelasi Indonesia di kapal De Zeven Provincies melakukan "pemberontakan", sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pelaksanaan "politik pengurangan gaji" oleh kolonialisme telah memancing keresahan nasional yang selama ini hanya disimpan dalam hati. Ketika anak-kapal Eropa mengalami pengurangan gaji lebih kecil dibandingkan pengurangan gaji klasi pribumi maka diskrepansi kolonial pun tampak sebagai ketidakadilan yang menghina.
Keresahan ekonomi dan ketimpangan sosial telah mempersatukan para kelasi Indonesia, yang terdiri atas beberapa suku bangsa dan penganut agama yang berbeda-beda dalam suatu tindakan yang sama. Pemberontakan di kapal De Zeven Provincien adalah cetusan nasionalisme Indonesia yang keras di saat kekuasaan kolonial masih kuat bercokol.

Copyeditor Tantrina Dwi Aprianita
Layouter : Rahma Hilma Taslima
Cover designer  : Rusli Fazi
Registrasi : ISBN 978-979-799-826-4 (21/04/15)
Halaman : xxiii + 112 hlm.
Dimensi : A5 (14,8 x 21 cm)

©2015 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi