DISRUPSI: Dinamika kehidupan Masyarakat Mentawai di Tengah Modernisasi
Oleh Administrator

DISRUPSI: Dinamika kehidupan Masyarakat Mentawai di Tengah Modernisasi

28 September 2020  |  Buku

Penulis: Rengga Satria

Sejak 6 dekade lalu, pemerintah berupaya melenyapkan kepercayaan masyarakat Adat Mentawai, Arat Sabulungan.

Pembakaran peralatan dan perlengkapan adat hingga penangkapan Sikerei dilegalkan dalam SK No.167/PROMOSI/1954. Tujuannya satu, menghapuskan kepercayaan Arat Sabulungan dan memaksa masyarakat adat Mentawai memeluk agama yang diakui pemerintah.

Namun banyak pihak menilai, hal itu hanya akal-akalan untuk mengalihfungsikan 601.135 hektar daratan Mentawai yang sebagian besarnya merupakan hutan untuk dijadikan “tambang” investasi pemerintah.

Hutan yang selama ini menjadi “kiblat” Arat Sabulungan akan mudah dikuasai jika masyarakat adat Mentawai memeluk kepercayaan lain dan menjadi modern.

*****

Since 6 decades ago, the government has tried to eliminate the belief of the Mentawai Indigenous people, Arat Sabulungan.

Combustion of custom tools and equipment until Sikerei’s arrest was legalized in Decree No.167/PROMOSI/1954. One goal is to abolish the belief of Arat Sabulungan and force the Mentawai indigenous people to take a religion recognized by the government as their belief.

However, many parties believe that this is only a trick to transfer the function of 601.135 hectares of Mentawai land, most of which are forests to become “mine” for government investment.

Forests that have been the “Qibla” of Arat Sabulungan will be easily controlled if the Mentawai indigenous people believe in other beliefs and become modern.

Copyeditor Syaiful Ulum
Layouter : Muksith Surury
Cover designer  : Zulhidayah
Registrasi : ISBN 978-602-496-141-1 (Elektronis)
Halaman : 208 hal.
Dimensi : A5 (14,8 × 21 cm)

©2020 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

 

 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi