Gandeng LIPI Press, Balitbang Kementan Tingkatkan Peran Penerbit Ilmiah
Oleh Administrator

Gandeng LIPI Press, Balitbang Kementan Tingkatkan Peran Penerbit Ilmiah

17 Juni 2017  |  Berita

Bogor - Senin (13/6), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Workshop Peningkatan Kapasitas Terbitan Buku Ilmiah Populer”. Kegiatan yang digelar di Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor ini diikuti oleh lebih dari 40 orang peserta yang terdiri dari peneliti di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan). Turut hadir pula pengelola Indonesian Agency for Agricultural Research and Development Press (IAARD Press), sebuah penerbit ilmiah yang fokus pada penelitian dan pengembangan bidang pertanian.

Kepala Bagian Kerjasama, Hukum, Organisasi, dan Humas di Sekretariat Badan Litbang Kementan, Dr. Edi Husen, M.Sc. menyambut baik penyelenggaraan workshop. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penerbitan buku dari para peneliti di lingkungan Balitbangtan,” ujar Kepala yang juga peneliti Bidang Kesuburan Tanah dan Biologi Tanah dalam sambutannya. “Kegiatan ini juga sangat penting untuk meningkatkan dan mendorong peran IAARD Press dalam mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dan pengembangan dalam bidang pertanian yang menjadi tugas dan fungsi pokok Balitbangtan, baik dalam bentuk buku maupun terbitan lainnya.”

Dalam kesempatan yang sama, LIPI Press mendapat kepercayaan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola penerbitan ilmiah. Materi pertama disampaikan oleh Rahmi Lestari Helmi, S.Si., M.Si. terkait Kebijakan Mutu Layanan Penerbitan Ilmiah LIPI Press dan materi kedua tentang Penyajian dan Kelengkapan Naskah Terbitan Ilmiah disampaikan oleh Muhammad Fadly Suhendra, S.Ikom.

Beberapa hal yang ditekankan oleh Rahmi Lestari Helmi, S.Si., M.Si. dalam pemaparannya terkait upaya penjaminan mutu yang dilakukan LIPI Press. “Dalam proses penerbitan, LIPI Press sangat fokus dan perhatian terhadap etika publikasi, khususnya yang menyangkut plagiarisme. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sistem manajemen mutu penerbitan yang diterapkan di LIPI Press,” tegas wanita yang juga menjabat sebagai Kepala LIPI Press.

“Dalam praktiknya, setiap penulis diharuskan untuk mengisi formulir pengajuan naskah dengan pernyataan bermeterai. Kemudian menyertakan surat pengantar dari Kepala Satuan Kerja, hal ini sebagai salah satu bentuk jaminan bahwa tidak adanya unsur pelanggaran yang dilakukan penulis dari satker tempat penulis bekerja,” jelasnya. Akan tetapi, peneliti Muda Bidang Manajemen dan Bisnis ini juga menambahkan bahwa selain kedua upaya tersebut, penjaminan mutu utamanya juga dapat dilakukan melalui proses penelaahan dan penilaian naskah oleh kolega ahli/pakar (peer review) sesuai bidang naskah. Proses tersebut ditentukan dan melibatkan dewan editor LIPI Press yang terdiri atas para peneliti (pakar) yang telah mencapai pangkat sebagai peneliti utama atau Profesor Riset.

Kegiatan ini berdasarkan adanya peraturan Kepala LIPI No. 17 Tahun 2016 tentang Pedoman Akreditasi Penerbit Ilmiah. Akreditasi penerbit ilmiah bertujuan untuk menilai bagaimana pengelolaan manajemen penerbitan ilmiah sehingga berdampak pada kualitas hasil-hasil terbitannya. Ada empat hal yang menjadi pokok perhatian dari pedoman tersebut, yaitu meliputi sistem manajemen mutu penerbitan ilmiah, substansi ilmiah, konsistensi gaya selingkung, kompetensi SDM, dan Infrastruktur.

Berkaitan dengan itu, setiap penerbit ilmiah harus memiliki sistem manajemen mutu yang baik. Salah satunya adalah adanya pedoman sebagai acuan kerja yang menjadi dasar bagi sebuah penerbit untuk melaksanakan fungsinya. Dengan adanya pedoman sebagai acuan kerja diharapkan mampu mengawal tiga pilar kode etika ilmu pengetahuan yang meliputi Kode Etika Peneliti, Klirens Etik Penelitian dan Publikasi, dan Kode EtikaPublikasi Ilmiah. Tiga pilar kode etika ilmu pengetahuan tersebut harus menjadi dasar dan perhatian seorang peneliti ketika melakukan kegiatan penelitian dan penyusunan publikasi. Selain itu, dalam kegiatan penerbitan seorang peneliti juga harus mencermati adanya UU No.28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, khususnya Pasal 35.

Keberadaan lembaga penerbitan di lingkungan kementerian dan lembaga didasarkan atas Peraturan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Nomor 94/E/2012 tentang Pedoman Karya Tulis Ilmiah. Dikatakan bahwa buku ilmiah wajib dikeluarkan oleh suatu badan usaha atau lembaga penerbitan, baik di tingkat instansi/unit litbang pemerintah, atau lembaga penerbitan swasta nasional atau internasional yang memiliki fungsi sebagai usaha penerbitan. Lembaga penerbitan adalah badan usaha penerbitan buku yang mempunyai dewan editor, dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan difokuskan untuk menjalankan usaha penerbitan serta masuk dalam keanggotaan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Berdasarkan hal itu, melalui Surat Keputusan Nomor 44/Kpts/OT.160/I/3/2012 tanggal 1 Maret 2012, Kepala Badan Litbang Pertanian mendirikanIAARD Press. IAARD Press diharapkan dapat menjadi mitra penulis yang ingin menerbitkan buku pertanian yang berkualitas untuk meningkatkan profesionalisme para pelaku iptek sekaligus mendukung pembangunan pertanian di Indonesia.

Sebagai sebuah unit penerbitan, baik IAARD Press maupun LIPI Press, saat ini diharapkan mampu mendukung peneliti di lingkungannya masing-masing dalam menghadapi tantangan dunia penelitian yang semakin berkembang. Penerbitan hasil penelitian menjadi sebuah buku, bagi seorang peneliti bukan saja sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada publik, tetapi juga merupakan salah satu syarat utama untuk naik ke jenjang karier yang lebih tinggi.

Hal tersebut berdampak pada meningkatnya kuantitas manuskrip buku ilmiah ke depannya yang berbanding lurus dengan kebutuhan akan penerbit ilmiah di Indonesia. Kebutuhan peneliti yang terus meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi penerbit ilmiah untuk meningkatkan kapasitasnya agar tidak hanya meningkat secara kuantitas melainkan dari kualitas substansi buku ilmiahnya. Terlebih perannya sebagai salah satu garda depan diseminasi hasil penelitian, buku ilmiah mutlak menjadi perhatian khusus agar hasil penelitian dapat sampai pada lingkup masyarakat yang lebih luas. Memandang aspek strategis tersebut, keberadaan suatu penerbit ilmiah menjadi salah satu pemegang peran penting untuk dapat meningkatkan kapasitas sekaligus citra lembaga litbang melalui karya-karya para penelitinya. */mfs/

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi