Hadapi Era Penerbitan 4.0, LIPI Press Terapkan OMP
Oleh Administrator

Hadapi Era Penerbitan 4.0, LIPI Press Terapkan OMP

15 Desember 2020  |  Berita

Jakarta – Hadirnya Era Revolusi Industri 4.0 di awal 2018, dicirikan adanya perpaduan teknologi siber dengan otomatisasi. Pemanfaatan teknologi tidak hanya dalam proses, tetapi juga memasuki hampir seluruh rantai nilai kegiatan produksi. Namun, selain membuat pekerjaan semakin mudah dan cepat, kemajuan teknologi juga menggerus peran manusia. Hal ini ditandai dengan munculnya konsep smart factory, yakni upaya meningkatkan efisiensi produksi melalui automasi dan internet yang mengakibatkan terjadinya pengurangan peran manusia, yang disebut sebagai disrupsi (disruption) (Baenanda, 2019; Kasali, 2017). Bahkan, diperkirakan ada sekitar 56% pekerjaan berpotensi hilang sebagai imbas dari disrupsi teknologi (Bayu, 2018).

Lalu bagaimana dampak fenomena Revolusi Industri 4.0 ini dalam pengelolaan dan pelayanan kegiatan penerbitan yang sebagian besar masih berorientasi konvensional. Apakah mungkin juga akan tergantikan melalui berbagai aplikasi? Sebagai bagian dari industri kreatif, penerbitan yang menaungi berbagai profesi dalam beberapa dekade ini telah mengalami perkembangan dan tuntutan perubahan, yakni pergeseran dari cetak konvensional ke media digital. Hal ini dipengaruhi karena perkembangan zaman dan teknologi yang menuntut orang-orang beralih dari desktop ke perangkat genggam dan e-Readers. Selain itu, maraknya self-publishing juga menjadi ancaman yang cukup serius bagi industri penerbitan. Karenanya, disrupsi mungkin juga akan terjadi dalam industri penerbitan, terutama jika para pelaku penerbitan yang terdiri atas editor, desainer, dan ilustrator tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi digital.

Menanggapi hal ini, Fahsel dkk. (2017) menyatakan bahwa Industri 4.0 juga melahirkan konsep Penerbitan 4.0 sebagai respons dari disrupsi di sektor penerbitan. Menurutnya, di Era Penerbitan 4.0 pelaku penerbitan dituntun untuk melakukan transformasi, mulai dari pola pikir hingga ke pola kerja.

Pola pikir penerbit di era 4.0 tidak bisa lagi hanya menawarkan produk fisik, tetapi juga berevolusi menyediakan jasa atau layanan digital. Menurut Maxim dan Maxim (2012) meredefinisi konsep produk yang ditawarkan penerbit menjadi hal yang sangat krusial dan harus menjadi prioritas bagi penerbit untuk mencapai pertumbuhan yang stabil di era digital. Berdasarkan kondisi tersebut penerbit juga dipaksa untuk mentransformasi pola kerja. Jika selama ini pola kerja penerbit selalu fokus pada (berjualan) produk maka hal tersebut tidak lagi boleh terjadi. Penerbit harus mengedepankan pola kerja yang berorientasi pada (kebutuhan) konsumen.

Sehubungan dengan itu, pada Senin (14/12) LIPI Press menyelenggarakan kegiatan webinar yang bertajuk “Penerapan Open Monograph Press (OMP) dalam Penerbitan Ilmiah”. Acara tersebut diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari para pelaku penerbitan penerbit ilmiah, mulai dari editor, copyeditor, desainer, praktisi IT, dan pustakawan; penulis atau calon penulis yang terdiri dari akademisi (peneliti dan dosen); pemangku kepentingan; dan masyarakat umum sebagai pengakses informasi ilmiah.

Kegiatan ini merupakan forum untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam proses penerbitan buku ilmiah menggunakan OMP di LIPI Press. Acara ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat pengelolaan penerbitan ilmiah yang profesional dan akuntabel sesuai dengan tuntutan Era Penerbitan 4.0, yaitu melalui penerapan teknologi informasi, baik dalam pengemasan terbitan maupun proses layanan penerbitan buku.

Acara yang dikemas dalam bentuk talk show tersebut menghadirkan tiga narasumber dari internal LIPI Press. Materi pertama terkait dengan Evolusi Penerbitan di Era Industri 4.0 yang disampaikan oleh Fadly Suhendra selaku editor LIPI Press. Fadly berbagai informasi mengenai peran dan tantangan pelaku penerbitan di era penerbitan 4.0. Materi kedua, terkait manajemen penerbitan melalui OMP di sampaikan oleh Dhevi E.I.R. Mahelingga. Selain pengenalan dan mekanisme pengelolaan penerbitan OMP, Lingga juga menyampaikan mengenai keunggulan dan keuntungan penggunaan OMP.

Selanjutnya, untuk memberikan gambaran mengenai langkah-langkah penggunaan OMP, pada materi ketiga peserta mendapatkan informasi mengenai bagaimana Membangun Sistem Open Monograph Press yang disampaikan oleh Andri Agus Rahman selaku pengelola sistem OMP di LIPI Press.   

Upaya penerapan e-service publishing di LIPI Press dilakukan sebagai respons dari munculnya berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku penerbitan di era digital untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Di era Penerbitan 4.0, Penerbit buku ilmiah, baik di penerbit perguruan tinggi maupun litbang, dituntut untuk memperkuat peran ilmiahnya dalam menunjang indeks dan sitasi penulis. Kebutuhan ilmiah tersebut sejatinya telah diakomodasi oleh Public Knowledge Project (PKP) selaku pengembang OJS, yang juga mengembangkan Open Monograph Press (OMP) untuk sistem penerbitan buku ilmiah. OMP adalah platform sumber terbuka untuk mengelola alur kerja editorial penerbitan buku ilmiah, seperti monografi dan bunga rampai.

Penggunaan sistem berbasis teknologi informasi selain menunjang akuntabilitas penyaringan naskah, kelayakan pengelolaan, dan ketepatan waktu penerbitan ilmiah, juga mempunyai urgensi pada sisi diseminasi yang lebih luas dan indeksasi secara daring yang berujung pada sitasi terhadap buku ilmiah. Melalui forum ini diharapkan semakin mengenalkan OMP ke masyarakat ilmiah secara lebih luas dan familiar digunakan seperti halnya OJS untuk penerbitan jurnal.*/mfs

Rekaman kegiatan ini dapat disimak melalui: https://www.youtube.com/watch?v=-Vb9NVUwvAU

 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi