LIPI Press Bedah KTI Bunga Rampai di Balai Arkeologi Jawa Barat
Oleh Administrator

LIPI Press Bedah KTI Bunga Rampai di Balai Arkeologi Jawa Barat

27 Februari 2020  |  Berita

Bandung – Rabu (26/2) LIPI Press kembali berkesempatan berbagai pengetahuan tentang pengelolaan penerbitan dan kaidah terbitan karya tulis ilmiah bunga rampai. Kali ini bertempat di Balai Arkeologi Jawa Barat yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai lembaga penelitian arkeologi, salah satu tugas Balai Arkeologi Jawa Barat (Balar Jabar) adalah menghasilkan berbagai publikasi hasil-hasil penelitian arkeologi, baik dalam bentuk jurnal ilmiah, tulisan populer, dan buku-buku ilmiah. Pada tahun 2020 ini, Balar Jabar berencana menerbitkan kumpulan tulisan ilmiah dalam bentuk Bunga Rampai yang merupakan salah satu bentuk publikasi yang dapat memberikan informasi bagi masyarakat tentang hasil-hasil penelitian arkeologi yang telah dilakukan.

Dalam sambutannya, Kepala Balai Arkeologi Jawa Barat, Deni Sutrisna, S.S., M.Hum., mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan agar karya tulis ilmiah dari para peneliti Balar Jabar menjadi terbitan yang berkualitas dan sesuai kaidah sehingga dapat memberikan kontribusi dalam pengayaan khazanah ilmu pengetahuan arkeologi.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan luaran hasil-hasil penelitian dari Balar Jawa Barat. Ke depan kami berharap tidak hanya menghasilkan luaran dalam bentuk jurnal dan prosiding, tetapi juga berupa buku-buku ilmiah dalam bentuk bunga rampai yang berkualitas dan sesuai kaidah,” tegas Demi Sutrisna yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh ini.

Harapannya, melalui upaya ini arkeologi dapat memberikan kontribusi terhadap isu-isu kebangsaan, khususnya dalam penumbuhan dan penguatan rasa nasionalisme, gotong royong, dan persaudaraan, serta pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pelestarian dan pemanfaatan tinggalan budaya (arkeologis) yang mengandung nilai-nilai sejarah.

Kegiatan diskusi dan bedah terbitan bunga rampai tersebut bertempat di Ruang Seminar Balai Arkeologi Jawa Barat, Bandung dan dihadiri oleh 15 orang peneliti. Pada kesempatan tersebut, hadir salah satu editor LIPI Press, Fadly Suhendra yang memberikan materi “Memahami karya tulis ilmiah (KTI) dan kaidah penerbitan Bunga Rampai”.

Dalam Paparannya, Fadly menekankan pentingnya pemahaman tentang karya tulis ilmiah, khususnya terbitan buku. “Setiap terbitan buku memiliki bentuk dan tata cara penulisan yang berbeda-beda, walaupun secara prinsip harus memenuhi kelengkapan anatomi buku. Apalagi untuk karya yang ditulis lebih dari satu orang, penting untuk melihat bagaimana pembahasan substansinya, bagaimana keterkaitan antarartikel/babnya, dan bagaimana sistematikanya,” jelas editor yang telah melewati satu dekade di LIPI Press ini.

Menurutnya, terbitan bunga rampai atau bagian dari buku bukanlah sekadar kumpulan tulisan artikel yang disusun menjadi satu. “Sebuah bunga rampai harus memiliki informasi yang jelas, topik dan permasalahan apa yang ingin dijawab, organisasi penulisan yang koheren, dan setiap artikel terintegrasi dengan baik, bukan hanya sekadar kumpulan bab yang dikait-kaitkan karena adanya satu topik yang sama,” tambahnya. 

Selain itu, adanya Peraturan Kepala LIPI No. 20 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Peneliti menjadi salah satu topik yang didiskusikan. Pasalnya, dalam peraturan tersebut terdapat beberapa jenis terbitan buku yang bisa diklaim oleh seorang peneliti, seperti buku atau bagian dari buku, bunga rampai, buku ajar, buku panduan, dan buku ilmiah populer.

Lebih lanjut, Fadly menyampaikan bahwa “Dari sudut pandang seorang editor, adanya revisi Juknis Peneliti tersebut, pemahaman terhadap bentuk terbitan buku semakin menarik dan menantang. Bila sebelumnya terbitan buku ilmiah dikenal dalam dua jenis, yaitu buku ilmiah dan buku bunga rampai atau bagian dari buku, kini di Juknis terbaru, antara bunga rampai dan bagian dari buku menjadi dua hal yang berbeda,” tegasnya.

Dengan adanya perubahan jenis buku tersebut, menuntut kemampuan dan kematangan editor dalam memahami setiap naskah yang akan diusulkan untuk terbit. Begitupun editor di penerbit, tidak bisa hanya sebatas menguasai tata bahasa, tetapi juga memahami substansi dan bagaimana sistematika penyajian setiap terbitan. Dengan demikian, kecepatan, ketepatan, konsistensi, dan kualitas setiap terbitan bisa terus terjaga.

Oleh karena itu, keberadaan dan peran seorang editor dalam sebuah terbitan bunga rampai tidak bisa ditawar lagi. Menurutnya, kemampuan Editor dalam mengelola proses penulisan yang efisien, sama pentingnya dengan komunikasi yang efektif dengan setiap penulis dan editor di penerbit. Kedua hal itu sangat menjamin keberlangsungan dan kelancaran melewati setiap tahap proses penerbitan.

“Dalam sebuah bunga rampai Editor harus terlibat sepanjang proses. Editor adalah “kunci” dalam perencanaan, penyusunan, hingga ke pengeditan akhir dari masing-masing bab yang ditulis oleh orang berbeda. Bagi sebuah penerbit, Editor Bunga Rampai adalah“Pusat” informasi untuk semua kontributor dan isi tulisannya. Jadi, Editor Bunga Rampai tidak bisa ditunjuk setelah tema dan naskah terkumpul,” tutup Fadly di akhir paparan. 

Setelah diskusi dan tanya jawab, sekaligus membedah outline Bunga Rampai yang akan disusun, acara diakhiri dengan foto bersama.*/mfs

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi