LIPI Press Berbagi Pengalaman Penerbitan Ilmiah di Pusat Manajemen Informasi BPPT
Oleh Administrator

LIPI Press Berbagi Pengalaman Penerbitan Ilmiah di Pusat Manajemen Informasi BPPT

04 November 2019  |  Berita

Serpong-Pada Selasa (30/10) LIPI Press berkesempatan menghadiri undangan dari Pusat Manajemen Informasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk berbagi informasi dan pengetahuan mengenai mekanisme penerbitan ilmiah, khususnya penjaminan mutu naskah terbitan melalui penelaahan dan penyuntingan.

Acara bertajuk “Bimbingan Teknis Penelaahan dan Penyuntingan Naskah” ini diselenggarakan di Ruang Rapat Pusat Manajemen Informasi Gedung Teknologi 3 Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk knowledge sharing pengalaman seputar penerbitan ilmiah yang telah diterapkan di LIPI Press dalam satu dekade terakhir.

Sebanyak lebih dari 30 sivitas BPPT yang terdiri dari peneliti, perekayasa, penulis, dewan editor, dan pegawai Pusat Manajemen Informasi BPPT hadir dan berpartisipasi dalam acara ini. Sebagian besar dari mereka adalah pengelola/pelaku terbitan di BPPT Press—unit pelaksana penerbitan di BPPT yang berada dalam naungan Pusat Manejemen Informasi.

Acara diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Kepala Pusat Manajemen Informasi, Ir. Irwan Rawal Husdi, M.Eng. Melalui bimbingan teknis ini, Irwan berharap BPPT dapat belajar dan  menggali informasi lebih banyak dari LIPI Press.

“Kami sengaja mengundang LIPI Press untuk berbagi informasi dan pengalaman seputar penerbitan ilmiah karena LIPI Press telah lebih dahulu menjalankan proses penerbitan ilmiah. Apalagi LIPI Press juga telah menerapkan skema kerja sama penerbitan dengan mitra, kementerian/instansi lain, dan penerbit internasional. Semoga BPPT bisa belajar dari situ, termasuk tentang bagaimana menjaga kualitas konten terbitan melalui proses penelahaan dan penyuntingan,” tutur lelaki yang juga menjabat sebagai Kepala BPPT Press.

Dalam kesempatan tersebut, hadir dua perwakilan dari LIPI Press, Sarwendah Puspita Dewi dan Dhevi E.I.R. Mahelingga, masing-masing merupakan editor bahasa dan editor visual di LIPI Press. Sarwendah dan Mahelingga secara bergantian menyampaikan informasi dan pengetahuan mengenai penjaminan mutu ilmiah dan bagaimana prosedur tersebut dijalankan di LIPI Press.

Mahelingga menjelaskan “penjaminan mutu” yang diterapkan di LIPI Press yang mencakup rangkaian kegiatan penilaian dan penelaahan (review) naskah. “Penelaahaan dilakukan oleh pakar/ahli yang sesuai dengan topik/tema naskah berdasarkan rekomendasi dari Dewan Editor. Di samping itu, penelaah yang dipilih tentunya diutamakan memiliki rekam jejak dan pengalaman sebagai penulis atau editor buku ilmiah dan/atau bunga rampai. Tak kalah penting pula, seorang penelaah harus memiliki integritas dalam artian mampu memenuhi ketentuan, mekanisme, dan tenggat waktu,” ujar Mahelingga.

Diskusi yang muncul pada saat sesi pertama ini sangat beragam; Ihwal eksistensi dan posisi LIPI Press, peningkatan kualitas dan jenis terbitan di LIPI Press, serta ketersediaan sumber daya pelaksana maupun pendukung di LIPI Press. Diskusi akhirnya berkembang dan berujung pada upaya strategis peningkatan motivasi menulis bagi para sivitas BPPT, juga peningkatan animo masyarakat kepada terbitan-terbitan BPPT Press.  

“Berbagai cara dapat dilakukan oleh BPPT Press untuk meraih banyak perhatian dari masyarakat luas, termasuk memperkenalkan karya dan terbitan-terbitan BPPT Press. Cara ini dapat ditempuh, baik itu melalui metode online seperti media sosial maupun offline seperti roadshow ke satker-satker; mengikuti berbagai macam ajang pameran, baik nasional maupun internasional, di lingkup internal BPPT maupun di lembaga, universitas, maupun kementerian lain,” ujar Sarwendah menjelang akhir diskusi.

Pada sesi selanjutnya, Sarwendah memberikan pemaparan terkait penyuntingan naskah buku ilmiah dan pengalamannya sebagai seorang copy editor di LIPI Press. Pengetahuan seputar kemampuan dasar mengedit atau menyunting naskah merupakan penajaman materi yang kemudian dirangkum oleh Sarwendah ke dalam enam elemen penting sebagai dasar dalam menyunting naskah ilmiah.

“Spasi, Ejaan, Konsistensi kata dan kalimat, Sumber, Ilustrasi, dan Baca kembali atau lebih praktis diingat sebagai ‘SEKSI-B’ merupakan enam poin penting yang menjadi dasar sekaligus sasaran utama dalam menyunting sebuah naskah (buku) ilmiah. Terus dan mau belajar merupakan kunci berikutnya untuk menjadi seorang copy editor yang mumpuni,” papar Sarwendah.

Pengayaan materi terkait pengenalan singkat tata letak (layout) turut disampaikan oleh Mahelingga pada sesi berikutnya. “Setiap penerbitan umumnya memiliki standar tata letak, terutama font, baik ukuran maupun spasi yang digunakan. Dengan demikian, publikasi yang diterbitkan dapat terstandar dan seragam," pungkas Mahelingga mengakhiri presentasinya.

Menjelang  akhir kegiatan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan praktik editing naskah secara langsung. Ini dilakukan guna memperkenalkan dan memberi kesempatan kepada peserta untuk dapat merasakan sensasi berlatih editing. Peserta terlihat lebih antusias dan bersemangat ketika mengetahui bahwa tiga kelompok (di antara mereka) dengan nilai tertinggi berhak mendapatkan hadiah berupa buku-buku terbitan LIPI Press.

Kegiatan yang berlangsung selama enam jam tersebut rupanya cukup mendapat tempat di hati para peserta. Antusiasme dan rasa ingin tahu peserta yang besar tecermin dalam setiap sesi diskusi dan tanya jawab. Sebelum acara ditutup, Arif—salah seorang peserta— sempat mengemukakan kesan dan harapannya terhadap acara semacam ini.

“Saya sangat menyambut baik pemaparan dan substansi diskusi yang disampaikan oleh LIPI Press, terutama tentang materi copy editing dan visual editing. Sebaiknya kegiatan semacam ini dapat sering diselenggarakan guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya pengelola penerbitan di BPPT Press,” tutur Arif.    

Bagi LIPI Press, ke depan kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi ajang berbagi pengalaman antarpelaku industri penerbitan, utamanya di tengah peran penerbitan ilmiah yang kian strategis. Penerbitan ilmiah bukan hanya menjadi sarana para peneliti dan pihak-pihak terkait untuk dapat memperkenalkan karya dan hasil-hasil kinerja mereka kepada masyarakat melalui publikasi ilmiah, tetapi juga sebagai akselerasi produktivitas publikasi ilmiah yang tidak hanya unggul dari sisi kuantitas, namun juga kualitas. Pada akhirnya, hal ini akan berujung pada upaya peningkatan daya saing bangsa.

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi