LIPI PRESS HADIR DALAM WORKSHOP PENERBITAN BUKU ILMIAH DI KEMENKUMHAM PRESS
Oleh Administrator

LIPI PRESS HADIR DALAM WORKSHOP PENERBITAN BUKU ILMIAH DI KEMENKUMHAM PRESS

03 Desember 2019  |  Berita

Jakarta – Senin (2/12) LIPI Press berkesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan penerbitan ilmiah di acara yang bertajuk Workshop Penerbitan Buku Ilmiah: Pembekalan untuk Tenaga Editor dan Reviewer Buku. Acara tersebut bertempat di Aula Badan Litbang Hukum dan HAM, Jakarta dan diikuti oleh 24 staf peneliti yang menjadi editor dan reviewer Kemenkumham Press.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Dr. Asep Kurniawan, S.H., M.M. mengatakan bahwa “Peran editor dan reviewer dewasa ini sangat penting sebagai penjamin mutu suatu publikasi ilmiah. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat penting untuk kita selenggarakan. Selain itu, ke depan diharapkan setiap kegiatan penelitian sejalan dengan Prioritas Riset Nasional (PRN). Dengan demikian, publikasi yang dihasilkan suatu lembaga penelitian harus dapat mencerminkan kualitas kegiatan penelitian yang dilakukan,” tegas pria yang pernah menjadi staf ahli menteri ini.

Pada kesempatan tersebut, LIPI Press hadir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan proses penerbitan ilmiah, khususnya terkait peran dan tanggung jawab editor. Dalam paparannya, Fadly Suhendra selaku staf editor yang hadir mewakili LIPI Press menekankan pentingnya pemahaman para pelaku penerbitan pada konsep penerbitan itu sendiri. Hal ini disampaikan karena di Indonesia sering kali penerbitan disamakan dengan percetakan.

Menurutnya, “masih banyak orang yang sulit membedakan proses kegiatan penerbitan dan percetakan, baik masyarakat awam, pelaku bisnis maupun pemerintah. Padahal, substansi kegiatan penerbitan lebih menitikberatkan pada produksi konten yang dalam prosesnya sangat bergantung pada editor, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas dalam mengkreasi dan mengemas konten. Sementara itu, percetakan adalah kegiatan untuk mereproduksi/memperbanyak konten ke dalam bentuk media fisik yang sangat bergantung pada operator dan mesin cetak,” tegas editor yang pernah mengenyam pendidikan di Editing Unpad ini.

“Dalam praktik penerbitan ilmiah, setiap naskah yang akan diterbitkan harus melalui proses peninjauan oleh pakar sebidang (peer review), yaitu penelaahan dan penilaian oleh penelaah/mitra bestari (reviewer). Oleh karena itu, dalam sebuah penerbit ilmiah umumnya mengenal beberapa peran dan fungsi editor yang menjadi tulang punggung kegiatan penerbitan, baik penerbitan buku maupun penerbitan media berkala, seperti jurnal ilmiah,” tambahnya.

Selanjutnya, disampaikan materi terkait manajemen editorial dalam sebuah penerbit ilmiah. Dalam paparannya, Fadly menjelaskan jenis-jenis beserta peran dan fungsi editor. Pertama adalah Editor Pelaksana, yaitu editor di Penerbit yang bertugas melakukan kegiatan kesekretariatan, mulai dari akuisisi/pengadaan naskah, penerimaan, dan verifikasi naskah serta mengoordinasi proses penelaahan naskah, melakukan penyuntingan, perwajahan (desain), produksi, dan distribusi terbitan. Editor pelaksana terdiri dari managing editor, copyeditor, proofreader, dan editor visual (layouter, ilustrator, dan desainer).

Kedua adalah Dewan Editor, yaitu tim editor yang bertugas membahas dan mengulas kelayakan substansi sebuah naskah dan membuat keputusan layak terbit atau tidaknya sebuah naskah. Dewan editor terdiri dari Editor Kepala (Chief Editor) dan Editor Bagian (Section Editor) atau dikenal juga dengan istilah editor bidang, yaitu editor yang memiliki keahlian atau kepakaran dalam bidang ilmu tertentu. Ketiga adalah penelaah/mitra bestari (reviewer), yaitu orang yang karena keahlian/kepakarannya diminta atau ditunjuk menjadi Editor Ahli untuk menelaah dan menilai substansi sebuah naskah serta membuat rekomendasi kepada dewan editor.

Keempat adalah editor kepengarangan, yaitu orang yang ditunjuk atau diminta oleh penulis (tim) untuk menyelaraskan isi buku. Dalam buku bunga rampai atau buku yang ditulis banyak orang, Editor kepengaranganlah yang bertanggung jawab terhadap keselarasan dan kesinambungan pembahasan isi buku. Dalam praktiknya, editor kepengarangan yang akan berinteraksi dengan penerbit.

Di akhir paparan, Fadly mengingatkan agar penerbit memiliki kejelasan terkait peran dan fungsi editor dalam menjamin dan menjaga kualitas suatu terbitan. “Selain menjadi penjamin mutu, editor juga bertanggung jawab untuk menjaga standar mutu suatu terbitan. Standar tersebut dikenal dengan istilah gaya selingkung (in house style),” tambah editor yang juga menjabat Fungsional Pranata Humas Muda LIPI ini.  

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab perihal tugas dan fungsi editor dalam kegiatan penerbitan ilmiah.*/mfs 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi