LIPI Press Selenggarakan Knowledge Sharing dan Talkshow dengan Tema:  “Pemanfaatan Ubi Kayu untuk Mendukung Ketahanan Pangan”
Oleh Administrator

LIPI Press Selenggarakan Knowledge Sharing dan Talkshow dengan Tema: “Pemanfaatan Ubi Kayu untuk Mendukung Ketahanan Pangan”

25 Oktober 2019  |  Berita

Serpong – Kamis (24/10) masih dalam rangkaian acara Indonesia Science Expo (ISE) 2019, LIPI Press menyelenggarakan kegiatan bedah buku yang dikemas dalam Knowledge Sharing dan TalkShow dengan tema “Pemanfaatan Ubi Kayu untuk Mendukung Ketahanan Pangan”. Acara tersebut bertempat di Ruang Cendana 1, ICE BSD dan dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, dosen, praktisi, pengusaha, dan perwakilan beberapa kementerian.

Pada kesempatan tersebut, hadir tiga orang narasumber yang menjadi pembahas. Pertama, pakar bidang keahlian agronomi, Dr. Ir. Nurul Khumaida, M.Si. yang juga menjabat Lektor Kepala/Assoc. Profesor Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB. Kedua, praktisi bidang keahlian pangan olahan, Hendrati Sri Kristyaningsih yang juga aktif sebagai Pengurus Komunitas Kuliner Boyolali. Ketiga, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, salah satu perwakilan penulis buku Biodiversitas Perakitan Klon Unggul dan Pemanfaatan Bioresources Ubi Kayu untuk Mendukung Ketahanan Pangan.   

Dalam sambutannya, Nur Tri Aries menyampaikan bahwa sebagai lembaga riset, LIPI berkewajiban untuk mengomunikasikan hasil-hasil kegiatan penelitian, salah satunya melalui kegiatan ini. “Acara bedah buku yang dikemas dalam bentuk talkshow ini merupakan salah satu upaya LIPI sebagai lembaga riset untuk mengomunikasikan dan mendiseminasikan hasil-hasil riset kepada masyakarat dan para pemangku kepentingan,” jelasnya.

“Buku ini ditulis oleh para peneliti LIPI yang telah lama menggeluti ubi kayu, tercatat sejak tahun 1986 dan dipimpinan langsung oleh Prof. Dr. Eni Sudarmonowati. Kami berharap bapak ibu dapat menggali informasi lebih jauh terkait pemanfaatan ubi kayu untuk berbagai kebutuhan,” tambah wanita yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Utama LIPI.      

Sementara itu, dalam paparannya, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati menyampaikan hal-hal pokok yang dibahas masing-masing bab dalam buku Ubi Kayu. Selain itu, beliau juga menyampaikan hasil-hasil penelitian Ubi Kayu yang pernah dilakukan bersama tim. Berdasarkan hasil penelitian Prof. Enny, singkong yang bisanya hanya bertahan tiga hari, justru dapat bertahan hingga 21 hari. Secara genetik dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya tahan ubi kayu.

Terkait dengan buku yang beliau tulis, menurutnya buku ini merupakan satu-satunya yang membahas ubi kayu secara lengkap, bahkan di tingkat dunia. “Buku ini merupakan salah satu referensi yang membahas tentang ubi kayu secara konfrehensif, mulai dari penelitian hingga pemanfaatannya. Untuk memperkaya pembahasannya, buku ini tidak saja mengupas hasil-hasil penelitian ubi kayu dari LIPI, tetapi mengulas juga berbagai penelitian dari luar negeri,” jelas wanita yang saat ini juga menjabat sebagai Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI. 

Selanjutnya, selaku pembahas dari sisi akademisi, Dr. Ir. Nurul Khumaida, M.Si. sangat mengapresiasi komitmen dan keseriusan tim peneliti dalam menekuni bidang penelitian Ubi Kayu sehingga dapat menghasilkan buku ini. “Karakteristik Ubi Kayu tidak seperti dalam lagu Kus Plus. Faktanya, Ubi Kayu tidak mudah tumbuh sehingga memerlukan pengetahuan dan ketekunan untuk menanganinya,” jelasnya.

Menurutnya, Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas pangan nonberas yang sangat populer, baik dikonsumsi langsung maupun sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Di Indonesia, ubi kayu menempati urutan keempat sebagai komoditas tanaman dengan urutan produksi tertinggi setelah padi, sawit, dan karet. Pemanfaatan ubi kayu sangat luas meliputi industri makanan, tekstil, dan kertas. Selain itu, di tengah kencangnya isu krisis energi, popularitas ubi kayu semakin meningkat sebagai bahan baku bioetanol.

Kemudian, Hendrati Sri Kristyaningsih menyabut baik adanya acara ini. Hal ini menunjukan besarnya perhatian terhadap Ubi Kayu. “Berbagai perkembangan dan kemajuan Ubi Kayu diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi para petani dan pelaku usaha Ubi Kayu. Akan tetapi, realitasnya para petani Ubi Kayu belum dapat merasakan kemajuan Ubi Kayu karena adanya beberapa sebab,” jelaspraktisi bidang keahlian pangan olahan ini.

Lebih lanjut, Hendrati menjelaskan bahwa salah satu penyebab petani belum bisa merasakan majunya Ubi Kayu adalah kurangnya pengetahuan petani untuk jenis-jenis ubi kayu yang bagus. Menurutnya, hal ini dikarenakan sebagian besar petani hanya menjalanan pertanian berdasarkan ilmu yang turun-temurun. “Keterbatasan ilmu yang  mereka terima membuat mereka tidak tahu Ubi Kayu seperti apa yang bagus untuk dimanfaatkan menjadi olahan pangan yang memiliki nilai gizi dan nilai ekonomi. Oleh karena itu, adanya pendampingan seperti yang dilakukan para peneliti LIPI melalui Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI sangat diperlukan oleh para petani dan pelaku usaha Ubi Kayu,” tambah wanita yang juga aktif sebagai Pengurus Komunitas Kuliner Boyolali ini.

Ketiga narasumber berharap, terbentuknya pemerintahan yang baru, khususnya melalui Kementerian Pertanian, agar ke depan tidak hanya fokus terhadap Padi, jagung, dan kedelai (Pajalai), tetapi juga perhatian terhadap Ubi Kayu/Singkong (Cassava) mengingat besarnya potensi dan pemanfaatannya. Setelah pemaparan para narasumber, acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta foto bersama. */mfs/

 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi