LIPI Press Sosialisasikan Manajemen Penerbitan Ilmiah Open Monograph Press
Oleh Administrator

LIPI Press Sosialisasikan Manajemen Penerbitan Ilmiah Open Monograph Press

21 November 2020  |  Berita

Jakarta (19/11) - LIPI Press kembali dipercaya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penerbitan ilmiah. Kali ini LIPI Press memberikan sosialisasi terkait sistem penerbitan ilmiah Open Monograph Press (OMP) ke Balitbangkumham Press. LIPI Press yang diwakili oleh Tim Pengembangan Sistem Layanan Penerbitan Ilmiah, Dhevi EIR Mahelingga dan Andri Agus Rahman, berbagi pengalamannya dalam kegiatan bertajuk "Sosialisasi Aplikasi Pelayanan Publik Open Monograph Press".

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 19 November 2020, tersebut terselenggara dalam rangka pengelolaan pelayanan penerbitan di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM (Balitbangkumham) khususnya di Pusat Pengembangan Data dan Informasi Penelitian Hukum dan HAM. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 14.00 WIB ini diikuti oleh peserta via luring dan daring. Peserta luring mengikuti kegiatan di Aula Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Lantai 8 dan peserta daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

Dalam sambutannya, Kepala Bagian Publikasi, Fitriyani berharap agar OMP bisa diaplikasikan Balitbangkumham Press pada 2021 mendatang karena saat ini OMP masih digunakan oleh internal Balitbangkumham Press. “Saya tertarik LIPI Press menjadikan OMP sebagai inovasi layanan publik di pembangunan zona integritasnya. Semoga ke depan sistem ini bisa dijadikan layanan publik Balitbangkumham Press, seperti yang dilakukan teman-teman LIPI,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dhevi EIR Mahelingga memaparkan tentang "Manajemen Penerbitan Open Monograph Press". OMP sendiri dikembangkan oleh Public Knowledge Project (PKP) yang juga mengembangkan OJS sebagai sistem pengelola penerbitan jurnal. Namun berbeda dengan OJS, OMP adalah platform sumber terbuka untuk mengelola alur kerja editorial untuk buku ilmiah, yakni monografi dan bunga rampai. "Manfaat OMP antara lain sebagai manajemen file manuskrip; manajemen peran dalam proses penerbitan; pengiriman dan notifikasi email; ketertelusuran progres naskah; manajemen penelaahan (double/blind review); pembuatan katalog buku; fungsi statistik; dan situs web untuk perpustakaan digital dan e-commerce" ungkap Dhevi EIR Mahelingga dalam paparannya.

Sementara itu, Andri Agus Rahman memaparkan tentang "Teknis OMP sebagai Sistem Penerbitan Buku". Beberapa poin penting terkait manajemen situs, seperti hosting dan domain; kebutuhan sistem; instalasi; konfigurasi; hingga search engine optimization untuk OMP. Dalam pembahasan manajemen press, dijelaskan terkait beberapa pengaturan press, website, workflow, hingga statistik. "Peran atau roles dalam OMP sama halnya dengan OJS, masing-masing peran terlibat pada tahap proses apa. Peran ini bisa disesuaikan dengan proses penerbitan di Balitbangkumham Press." ujar Andri Agus Rahman.

Penerbit perguruan tinggi dan litbang dituntut untuk meningkatkan peran ilmiah, yakni mendukung indeksasi dan sitasi dari para akademisi. Baik indeksasi dan sitasi ini dapat diakomodasi oleh OMP. "Kami berharap ke depan seluruh penerbit ilmiah, baik penerbit perguruan tinggi dan litbang menggunakan sistem OMP sebagai standar penerbitan buku ilmiah." ujar Dhevi EIR Mahelingga. Melalui OMP dapat tertelusur aktivitas keilmiahannya, apakah ditelaah, siapa yang menelaah, kapan penelaahan, dan bagaimana proses penelaahan. Hal tersebut yang akan membedakan penerbit ilmiah dengan penerbit umum karena buku yang dinilai sebagai buku ilmiah adalah buku yang diterbitkan melalui penelaahan substansi.

"Kami berharap OMP ini akan membedakan penerbit ilmiah dengan penerbit biasa (umum). Hal ini karena penerbit umum sebagian besar memercayakan begitu saja substansi pada penulisnya, tanpa adanya proses penelaahan atau tinjauan sejawat oleh pakar. Melalui OMP, penerbitan ilmiah dapat terstandar karena secara default terdapat proses verifikasi dan penelaahan substansi yang dapat ditelusur penelaah dan proses penelaahannya. Apabila nantinya akreditasi penerbit ilmiah dapat berjalan efektif, kami berharap OMP menjadi salah satu instrumen atau tool, seperti halnya penggunaan OJS untuk akreditasi jurnal. Sehingga asesor yang ingin menilai suatu penerbit ilmiah, tinggal membuka OMP-nya untuk mengetahui kualitas penjaminan mutu substansi dari penerbit ilmiah tersebut." pungkas Dhevi EIR Mahelingga.

 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi