LIPI Press: Tingkatkan Daya Saing Bangsa Melalui Publikasi Pengetahuan Lokal
Oleh Administrator

LIPI Press: Tingkatkan Daya Saing Bangsa Melalui Publikasi Pengetahuan Lokal

21 November 2020  |  Berita

Jakarta - Jumat (20/11) LIPI Press menyelenggarakan kegiatan Knowledge Sharing: Publikasi Pengetahuan Lokal dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa. Kegiatan ini merupakan fringe event atau bagian dari serangkaian acara Indonesia Science Expo (ISE) 2020 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Acara tersebut menghadirkan dua narasumber yang telah menghasilkan banyak karya dan sangat diakui dalam bidangnya masing-masing.

Pentingnya publikasi pengetahuan lokal sebagai sumber literasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia diharapkan mampu mendorong daya saing bangsa. Sehubungan dengan itu, LIPI memiliki peran yang sangat strategis untuk mendukung program pemerintah dalam me­wujudkan sumber daya manusia Indonesia yang cerdas dan unggul. Selain memproduksi ilmu pengetahuan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan, LIPI turut berperan aktif dalam penyediaan publikasi yang bermuatan iptek dan pengetahuan lokal yang kredibel dan inovatif. Berbagai publikasi pengetahuan tersebut tersedia sebagai sumber literasi yang dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat melalui kanal publik yang dikelola LIPI.

Penyediaan berbagai publikasi pengetahuan lokal tersebut dilakukan melalui Program Akuisisi Pengetahuan Lokal yang telah berjalan sejak awal 2020. “Program ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan lokal sehingga menjadi sumber literasi. Sebagai Program Nasional, program akuisisi diperuntukkan bagi masyarakat dari berbagai kalangan, baik yang memiliki karya dalam bentuk tulisan maupun rekaman audiovisual,” jelas Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya Jumat (20/11) di Jakarta.

Lebih jauh, Handoko berharap program ini akan melahirkan konten-konten kreator baru yang akan memperkaya literasi pengetahuan. “Melalui program ini diharapkan dapat memotivasi para konten kreator untuk mengeksplorasi berbagai pengetahuan lokal sehingga karya-karya mereka bisa diakses dan dimanfaatkan kembali oleh berbagai masyarakat,” tegasnya. “Kami harap melalui acara ini publik banyak yang tergerak untuk berkarya menjadi penulis atau kreator video serta berpartisipasi dalam Program Akuisisi LIPI,” tambahnya.

Sementara itu, Prapti Sasiwi sekalu Kepala LIPI Press menyampaikan harapannya agar acara ini dapat bermanfaat bagi para peserta, khususnya dalam memahami apa yang disebut dengan pengetahuan lokal dan mengetahui bagaimana mengemas dan memublikasikannya.  “Kami berharap program ini dapat memunculkan bakat-bakat muda yang mampu mengangkat kearifan lokal dari daerahnya masing-masing, baik dalam bentuk buku maupun video. Melalui Program Akuisisi, karya-karya yang diterima akan kami dokumentasikan dan diseminasikan secara lebih luas,” jelas Kepala LIPI Press dalam sambutannya.

Knowledge Sharing

Garin Nugroho menyambut baik Program Akuisisi Pengetahuan Lokal LIPI. “Strategi budaya LIPI ini harus kita acungi Jempol. Upaya untuk melahirkan Content Creator ini menjadi tantangan baru bagi lembaga-lembaga riset dan pengembangan yang mau tidak mau harus membaca perkembangan zaman yang dalam hubungannya dengan dunia baru dan terus baru,” jelas pelopor sutradara muda era ’90-an ini.

Menurutnya, tema pengetahuan lokal dan bagaimana pengembangannya bagi pengetahuan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat penting di hari ini. “Kenapa saya sebut sebagai yang penting pertama adalah karena seluruh peradaban dunia selalu berbasis pada bagaimana kemampuan mengolah kembali kebudayaan lokal. Banyak produksi film-film internasional saat ini mengolah pengetahuan lokal tanpa batas untuk kompetitif dunia,” tegas Garin.

Lebih lanjut, sutradara yang film-filmnya telah beredar melalui berbagai festival film di manca negara ini menambahkan bahwa untuk mengembangkan dan mengemas berbagai pengetahuan lokal memerlukan disiplin ilmu. “Mengembangkan pustaka lokal menjadi budaya heritage, budaya populer ataupun budaya alternatif membutuhkan keterampilan, pengetahuan, keahlian, dan pengetahuan riset,” jelasnya. “Kegiatan yang diinisiasi LIPI ini sangat berharga karena perlu cara-cara baru untuk pengembangan budaya lokal termasuk ahli wahana pengetahuan lokal menjadi film, teater, dan bentuk karya seni lainnya. Pengetahuan lokal adalah perpustakaan terbesar yang perlu terus kita kembangkan dan kemas agar dapat dikonsumsi secara luas,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Dr. M. Alie Humaedi selaku narasumber kedua mengangkat tema kehangatan dari filosofi nilai kearifan lokal dalam ingatan kolektif jalur rempah kenusantaraan. Menurutnya, Indonesia penuh dengan keramahtamahan, penuh citarasa tinggi, penuh kebaikan, penuh toleransi, penuh negosiasi menyelesaikan permasalahan yang ada di sekelilingnya, serta penuh kegotongroyongan menghadapi berbagai keterbatasan dan kerentanan.

“Dengan segala kearifan dan pengetahuan lokal, kita pernah berjaya di lautan dan daratan. Kita pernah menjada “raja-raja laut” dan sekaligus menjadi sultan-sultan di tataran daratan. Kini, apakah kita Berjaya? Bagaimana falsafah dasar “kehangatan” jalur rempah terekspos dan memapar kaum negeri dan termasuk mereka yang berada di sana? Salah satu keterpurukan itu adalah ketika pengenalan tentang Indonesia hanya identic dengan Bali saja. Indonesia bukanlah Bali saja, Indonesia adalah sebuah gugusan kepulauan yang membentang dari Merauke sampai Sabang, dari Talaud sampai Rote. Jika ditilik secara seksama, maka peran kearifan lokal dalam berbagai tradisi telah menjadi arena pertemuan dan silang budaya berbagai pihak yang berbeda itu.” Jelas Profesor Riset LIPI ini.

Menurutnya, strategi pendokumentasian dan publikasi kearifan lokal itu tidak lagi bersifat konvensional, tidak sekadar tulis menulis, tidak sekadar mencipta produksi pengetahuan secara sepihak, tetapi sebuah model partisipatif Bersama semua elemen bangsa, bahwa hal ini akan menjadi sebuah bangunan kesadaran tentang kebudayaan adalah miliknya, milik bersama, dan harus dimajukan dan dikembangkan oleh seluruh kekuatan elemen bangsa.

Digitalisasi dan pemodernan dalam berbagai bentuknya mau tidak mau menjadi bentangan jalan tak terelakkan dari upaya ini. LIPI Press setidaknya telah memulai ikhtiar itu melalui program akuisisi pengetahuan kearifan lokalnya. Semoga upaya itu mampu menstimulan peningkatan daya saing bangsa, setidaknya pada tahapan literasi awal tentang “keajaiban nilai-nilai kearifan lokal” yang dimiliki berbagai kelompok sukubangsa di Indonesia ini. */mfs

Rekaman kegiatan ini dapat disimak melalui: https://www.youtube.com/watch?v=NVPevaKNF4w&t=457s

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi