Manusia dan Gunung: Teologi, Bandung, Ekologi
Oleh Administrator

Manusia dan Gunung: Teologi, Bandung, Ekologi

27 Oktober 2021  |  Buku

Buku ini berusaha menyajikan pembahasan gunung berdasarkan konteks ketuhanan, sejarah, budaya, bentang alam, hingga hubungannya dengan ekologi.

Melalui buku ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya sekadar mendaki ketinggian pengetahuan gunung, melainkan juga menyelami kedalaman kebijaksanaan gunung.

 

Teologi Gunung

Pada bagian “teologi gunung”, dalam buku ini dipaparkan pembahasan tentang gunung yang disebutkan sebanyak 60 kali dalam alquran, penyebutan tersebut mewakili keberadaan manusia sebelum diturunkan ke muka bumi, mewakili keberadaan manusia ketika hidup di muka bumi, dan mewakili akhir keberadaan manusia di muka bumi (kiamat).

Pada bagian ini dipaparkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW juga merupakan “pendaki gunung”, ia mendaki dalam konteks tahannuts; mendaki untuk merenungkan setiap persoalan dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ilahiah, ia kemudian mendapatkan pencerahan di Gunung Hira (642 Mdpl [?]), dan setelah itu ia kemudian “turun gunung” untuk mengamalkannya apa yang ditemukannya, ke tengah masyarakat.

 

Catatan Peziarah & Pendaki

Bagian ini menceritakan sejarah “backpacker”, “traveling” dan kisah-kisah yang identik dengan petualangan, khususnya terkait gunung. Dalam kultur Timur, salah satu catatan budaya bertualang bisa ditemukan pada naskah “bujangga manik" di sekitar abad ke XV, sedangkan catatan eropa yang dijadikan pembahasan merujuk pada buku “bergenweelde” yang ditulis C.W Wormser awal abad ke XX (1890-1900).

 

Gunung Para Petapa

Jika Rosul pergi ke gunung untuk melakukan tahannuts, di Timur peristiwa tersebut disebut tapabrata, jika Nabi kemudian mengamalkan temuannya di gunung pada masyarakat, di Timur beberapa sosok berakhir dengan moksa, ngahiang, “abadi” di gunung-gunung.

Maka, gunung pada bagian ini dikenal juga sebagi tempat yang identik dengan para petapa.

Bagian ini membahas gunung Bandung yang dijadikan pertapaan Bujangga Manik sebelum akhirnya ngahiang di tempat lain. Gunung yang sakral sebagai tempat bertapa tersebut kondisinya hari ini begitu sangat memperihatinkan, bahkan kerusakannya telah menyentuh bagian puncak.

 

700 Gunung Bandung

Gunung dalam bahasa Sunda merupakan konsep tentang “unggul - unggulan”, dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “khusus”, merujuk pada sesuatu hal yang “spesial”, “menonjol” dalam arti memiliki keunggulan atau kelebihan.

Dalam bahasa populer “unggul - unggulan” disebut “prominen” asal kata dari “prominence”, dan dalam bahasa Sunda setiap “prominen” diklasifikasikan pada dua hal, yakni; “gunung” dan “pasir”, secara umum (dan pragmatis) tidak dikenal istilah “bukit”. Merujuk pada konsep prominen, di bandung melalui telaah yang dilakukan komunitas JGB ditemukan kemungkinan jumlah 700 dengan kecenderungan merujuk pada konsep “gunung”.

 

Mandala Rakutak

Gunung Rakutak merupakan gunung yang belakangan berhenti dikunjungi karena statusnya cagar alam. Berhenti mendaki gunung adalah hal mudah bagi siapa pun yang menyatakan dirinya “pencinta kelestarian alam”. Sebab jika berhenti mendaki merupakan bagian dari proses melestarikan alam, sungguh “berhenti” merupakan tindakan yang paling sederhana dari kata “berbuat banyak”.

Gunung Rakutak spesial karena secara histori banyak kisah melekat pada dirinya, sebut saja misalnya peristiwa “pagar betis”, di mana seorang kawan Soekarno pada akhirnya memilih “menyerah” dalam pertarungan ideologi di masa awal kelahiran Negara bernama “Indonesia” ini.

 

Mitos Aul

Bagian ini membahas keberadaan manusia berkepala serigala di gunung bandung yang “pernah” menjadi penjaga kelestarian alam. Ia menjaga sumber-sumber mata air, menjaga keutuhan hutan di gunung-gunung, serta mendisiplinkan masyarakat yang hidup di sekitarnya untuk tidak merusak alam.

Sosok manusia berkepala serigala ini banyak ditemukan di hampir setiap bagian arah mata angin gunung di bandung raya, khususnya bagian selatan, timur dan barat.

 

Gunung Artefak Nusantara

Jauh sebelum disebut “nusantara”, kepulauan Indonesia lampau dikenal dengan nama “nusakendeng”. Nusantara merujuk pada konsep kepulauan yang identik dengan laut, sedangkan Nusakendeng merujuk pada konsep daratan yang identik dengan gunung.

Catatan Nusakendeng relatif sulit ditemukan, kecuali kode-kode dari kidung pantun Sunda dan catatan Eropa seperti; Raffles dan Jonathan Rigg pada awal abad XIX, serta pengetahuan masyarakat Nusantara yang terrekam dalam cara memperlakukan gunung-gunung. Bagian ini membahas sisi gunung sebagai pencatat sebuah peradaban, sebab melalui kajian tentang gunung, khususnya gunung kendeng, kita bisa menemukan peradaban lampau yang sudah mengenal jarigan gunung-gunung yang barangkali hari ini identik dengan konsep “ring of fire”.

 

Editor: : Fairuzul Mumtaz
Penulis: : Pepep Didin Wahyudin
Layouter : Djue inspire
Cover designer :
Setia Adhi K/Sworks.ind
Registrasi : 978-602-51833-0-0 (cetak)
Halaman : 139 hlm. + ix hlm. 
Dimensi : A5 (14,8 × 21 cm)
 

@Djeladjah Pustaka 2019

 

Tags:  mendeley Webinar BRIN PenerbitBRIN PublikasiIlmiah WebinarMendeley Mendeley Webinar BRIN PenerbitBRIN PublikasiIlmiah WebinarMendeley Mendeley BRIN BRIN Webinar Silika Nano Jalan sengketa perbatasan kamboja laos Myanmar Thailand ASEAN Asia Tenggara ASEAN Asia Tenggara Asia Tenggara penerbit ilmiah penerbit BRIN ilmiah populer buku ilmiah kearfian lokal hiburan masa lalu Pengetahuan lokal penerbit BRIN buku tempe inovasi pangan olahan pangan pangan tempe ASEAN minat baca Benoa literasi Pengumuman Program Akuisisi Lokal A Program Pengetahuan Program Pengetahuan Pengetahuan Kafoa film dokumenter iptek gender iptek gender gender animasi komunikasi sains komunikasi sains Tokoh Publik Opini Akuisisi LIPI LIPI-Springer Magang Kegiatan Program editor buku perbukuan profesional editor profesi editor lsp editor buku terbaik buku terbaik Ubi Kayu bedah buku bedah buku Kearifan lokal akreditasi penerbit penerbit ilmiah buku ilmiah bunga rampai Lapan Pusfatja Lapan Sosialisasi penghargaan buku terbaik buku terbaik Balitbangkes Pulau Pari Scientific publisher manajemen penerbitan bunga rampai LIPI Press LIPI Ilmiah Penerbit penerbit LIPI Press Komnas HAM penerbit ilmiah buku ilmiah tulisan naskah cara mengedit editing edit Monev Kementerian PUPR IPB Press Studi Banding Studi Banding Zona Integritas Lokakarya Internasional Forum London Book Fair Buku Resensi Jasil Raker Sosialisasi Penerbitan Pameran Kerja Sama Frankfurt Book Fair Bedah Buku Sertifikasi LIPI Press ISO 9001:2008 ISO 9001:2008 Migrant CARE Riwanto Tirtosudarmo On The Politics of Migration Peluncuran Buku Pelatihan Penulisan Publikasi Ilmiah

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi