Memikirkan Kembali Nasionalisme bagi Generasi Milenial
Oleh Administrator

Memikirkan Kembali Nasionalisme bagi Generasi Milenial

05 Juni 2021  |  Resensi

Memikirkan Kembali Nasionalisme bagi Generasi Milenial

 Oleh: Joshua Jolly Sucanta Cakranegara (Peserta Magang Editor Bahasa Indonesia LIPI Press 2021)

 

Judul Buku      : Nasionalisme ala Milenial: Sebuah Disrupsi?

Editor              : Aulia Hadi dan Thung Ju Lan

Penulis            : Aulia Hadi, Ibnu Nadzir, Hidayatullah Rabbani, M. Nur Prabowo S., Rusydan Fathy, Jalu Lintang Y. A., Puji Hastuti, Dicky Rachmawan, Fachri Aidulsyah, Anggy Denok Sukmawati, Fanny Henry Tondo, Annisa Meutia Ratri, Sentiela Ocktaviana, dan Thung Ju Lan

Penerbit           : LIPI Press

Tahun Terbit   : 2021

Halaman         : xvi + 400 hlm.

ISBN               : 978-602-496-176-3 (cetak) dan 978-602-496-177-0 (e-book)

Sebagai generasi yang lahir pada 1980-an hingga 2000-an, generasi milenial hadir di tengah perkembangan teknologi informasi melalui internet yang semakin masif. Pertanyaannya, apakah nasionalisme masih relevan bagi mereka?

 Dalam berbagai pidato, ceramah, surat kabar, buku, hingga perbincangan di media sosial, frasa ‘generasi milenial’ tidak pernah habis terucap dan terungkap. Berbagai kalangan sepakat bahwa generasi milenial didefinisikan sebagai generasi masa kini yang lahir pada 1980-an hingga 2000-an. Mereka hadir di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tidak dapat terbendung. Mereka hidup di dalamnya. Terlebih lagi, internet sudah menjadi keseharian mereka. Internet telah menjadi jalan yang menghadirkan ruang ekspresi seluas-luasnya kepada generasi milenial. Oleh sebab itu, generasi ini juga dijuluki sebagai ‘disruptor’ atau generasi yang ingin hidup sebebas-bebasnya tanpa terkekang oleh sistem sosial tertentu. Dengan demikian, tentu kita bertanya-tanya, apakah generasi milenial, dengan ruang kebebasannya itu tetap dapat memanifestasikan nasionalismenya? Atau, nasionalisme sudah tidak relevan lagi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI) menyelenggarakan seminar nasional dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90 sekaligus reformasi ke-20 pada 2018. Dalam seminar tersebut, berbagai gagasan didiskusikan terkait nasionalisme ala milenial. Menariknya, gagasan yang kemudian dibukukan ini berasal dari generasi milenial, yaitu mereka yang saat ini sedang mengalami sekaligus berusaha mencari jawaban atas pergumulan tersebut. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila pandangan mereka sangat segar dan aktual dan ‘khas anak muda’ dengan semangat, kreativitas, dan optimisme yang tinggi. Inilah letak relevansi buku ini  sebagai alternatif pemecah pergumulan sekaligus pembuka jalan bagi sesama generasi milenial di Indonesia.

Ruang Publik dan Nasionalisme

Berdasarkan data statistik pada 2010, jumlah anak muda di Indonesia mencapai hingga setengah jumlah penduduk Indonesia. Dengan demikian, mereka memiliki sekaligus mengelola ruang publik dalam kehidupan di tengah masyarakat. Mereka juga turut andil dalam membentuk atau mengartikulasikan nasionalisme di ruang publik. Sebelum itu, kita lihat sedikit ke belakang bagaimana nasionalisme dapat terbentuk. Kajian klasik dari Benedict Anderson menegaskan bahwa bangsa sebagai muara dari nasionalisme terbentuk sebagai ‘masyarakat yang dibayangkan’. Dua faktor utama turut membentuk hal tersebut, yaitu kapitalisme cetak dan mobilisasi pemuda. Kapitalisme cetak menghasilkan media massa yang berkontribusi dalam penyebaran berbagai gagasan ke masyarakat luas. Sementara itu, mobilisasi pemuda antardaerah maupun antarbangsa semakin memperkuat kesadaran hidup bersama sebagai sebuah bangsa.

Kajian-kajian seputar nasionalisme terus bermunculan hingga abad ke-21. Sekurang-kurangnya, kajian tersebut dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, perdebatan tentang berbagai bentuk nasionalisme. Sebuah konsep menarik diperkenalkan, yaitu everyday nationalism yang berarti manifestasi nasionalisme melalui ekspresi sehari-hari yang mungkin tidak disadari. Kedua, kemunculan nasionalisme populis di berbagai belahan dunia, terutama nasionalisme sayap kanan. Ketiga, studi pemuda dan nasionalisme dalam konteks Indonesia yang masih mengandung bias definisi, baik definisi yang negatif dan homogen serta definisi yang terjebak dalam memori masa lalu. Dengan demikian, studi secara khusus atas generasi muda dan nasionalisme masih belum aktual.

Berkaca dari itu, konsep everyday nationalism dapat menjadi kerangka untuk mengeksplorasi gagasan lebih lanjut. Kerangka ini oleh Aulia Hadi dalam prolognya diterangkan dalam bentuk grafik yang terdiri atas beberapa faktor kunci, seperti (1) peleburan publik dan privat, (2) “keterbukaan” ruang publik, (3) kecepatan dan keterhubungan, (4) viral, (5) penyatuan ruang publik dan pasar, (6) oligopoli, dan (7) polarisasi-depolarisasi.

Konteks Milenial, Konstruksi Identitas, dan Komodifikasi Budaya

Enam bab pertama, di luar prolog, membahas landasan berpikir sekaligus wujud konkret dalam memahami warna-warni nasionalisme ala milenial. Ibnu Nadzir dalam Bab II menggarisbawahi kemunculan terminologi milenial berikut definisinya dari Amerika Serikat, yang seringkali dipahami sebagai generasi dengan “bias urban yang sangat kuat”. Hidayatullah Rabbani melengkapi pembahasan konteks milenial dalam Bab III dengan berkaca dari sebuah tonggak penting di masa lalu, yakni Sumpah Pemuda, dan ditarik hingga periode kontemporer.

Setelah memberikan landasan berpikir yang memadai mengenai konteks milenial, topik pembahasan selanjutnya adalah pembentukan identitas milenial. Sebuah artikel menarik ditulis dengan perspektif “santri milenial” oleh M. Nur Prabowo pada Bab IV yang menekankan kehadiran santri milenial sebagai kekuatan penyeimbang di tengah era disrupsi dan post-truth yang acapkali memunculkan ujaran kebencian di media sosial. Konstruksi identitas dalam konteks yang lebih luas dibahas oleh Rusydan Fathy dalam Bab V dengan penekanan cara milenial mengidentifikasi dirinya dalam keterikatan global dan lokal.

Konstruksi budaya demikian merupakan kerangka abstraksi yang kemudian dibentuk menjadi komoditas yang digemari milenial atau komodifikasi budaya. Jalu Lintang dalam Bab VI menunjukkan batik sebagai komoditas yang tidak lagi berkelas lokal, tetapi global, dengan hibriditas batik dan pengembangannya melalui media virtual. Di samping itu, Puji Hastuti dalam Bab VII menjelaskan komodifikasi beragam budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Menariknya, komodifikasi ini termanifestasi dalam gaya berbusana ala milenial yang kemudian dipublikasikan melalui pameran, baik daring maupun luring.

Pendidikan, Pemuda, Bahasa, dan Kewargaan

Enam bab terakhir, di luar epilog, lebih jauh membahas nasionalisme ala milenial dalam aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, bahasa, hingga kewargaan. Dicky Rahmawan dalam Bab VIII mendiskusikan cara membudayakan nilai-nilai Pancasila, yang dinilai kurang implementatif, dalam pendidikan dasar yang lebih berterima untuk milenial. Senada dengan hal itu, Fachri Aidulsyah dalam Bab IX memberi semacam peringatan kepada milenial dalam era post-truth society (masyarakat pasca-kebenaran) untuk saring sebelum sharing agar tidak terjerumus dalam penyebaran ajaran radikal dan informasi hoaks.

Di samping pendidikan, aspek bahasa juga menjadi penekanan dalam dua bab berikutnya. Anggy D. Sukmawati dalam Bab X menyimpulkan bahwa perkembangan bahasa Indonesia yang lebih memperhatikan aspek teknis dibandingkan sosial-budaya dapat menjadi bumerang di tengah masifnya penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa global. F. Henry Tondo menegaskan lebih lanjut dalam bab XI bahwa perilaku berbahasa generasi milenial dapat disebut sebagai bahasa “gado-gado” yang sering mengombinasikan beragam bahasa sesuai dengan konteksnya.

Aspek terakhir sekaligus terpenting yang dibahas adalah kewargaan. Annisa Meutia Ratri dalam Bab XII memaparkan contoh konkret generasi milenial turun langsung ke masyarakat, tidak seperti pandangan umum bahwa generasi ini berbeda dari generasi sebelumnya, seperti pengelolaan start-up dalam mengembangkan masyarakat perikanan. Selain itu, bidang politik—bidang yang berkaitan erat dengan kewargaan—yang acap kali dinilai kurang antusias oleh generasi milenial dibahas lebih lanjut oleh Sentiela Ocktaviana dalam Bab XIII. Contoh yang diangkatnya adalah partisipasi politik perempuan milenial dalam pemilihan calon anggota legislatif dalam ruang daring. Belum optimalnya penggunaan ruang daring merupakan tantangan tersendiri bagi perempuan milenial, ditambah dengan berbagai tantangan luring yang sudah ada sebelumnya.

Nasionalisme yang  (Tidak) Kedaluwarsa

Epilog yang ditulis Thung Ju Lan menjadi bagian pamungkas dalam buku ini. Ia pertama-tama menyoroti tren nasionalisme yang kedaluarsa (outdated) yang berkembang di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Dalam berbagai penelitian, survei, seminar, dan dialog, ditemukan kecenderungan bahwa pandangan terhadap generasi milenial masih didominasi secara negatif. Di Indonesia, slogan “NKRI Harga Mati” berhadapan dengan “NKRI bersyariah” yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Tidak hanya itu, nilai-nilai Pancasila mulai dibedah lebih dalam di tengah pergulatan paham sekuler dan agama.

Di tengah hangatnya perdebatan tersebut, sebagian generasi milenial memilih bersuara dengan menuangkan gagasannya dalam buku ini. Nasionalisme yang selama ini terkungkung dalam ruang fisik yang terbatas, serta romantisasi masa lalu yang amat kuat, menjadikan paham ini kedaluarsa, alias “bukan selera milenial”. Namun, itu bukan berarti nasionalisme benar-benar hilang dari mereka. Thung Ju Lan menyimpulkan bahwa nasionalisme ala milenial adalah nasionalisme yang “berbeda tetapi tidak salah”. Ruang dan waktu bukanlah batasan kaku dalam menilai nasionalisme. Selain itu, disrupsi yang selama ini digadang-gadang terjadi dipandang olehnya belum benar-benar tampak. Generasi milenial yang berperspektif global harus berhadapan dengan ruang negara yang semakin menyempitkan mereka.

Jadi, Quo Vadis Nasionalisme ala Milenial?

Setelah membaca buku ini, pembaca dapat sampai pada pertanyaan mau ke mana arah nasionalisme ala milenial ini? Pertanyaan di awal bahwa apakah nasionalisme masih relevan bagi mereka pun juga bermuara pada pertanyaan akhir ini. Tampaknya, buku ini menghadirkan optimisme bahwa nasionalisme secara konseptual masih relevan, asal diperbarui. Konsep yang berangkat dari romantisme masa lalu agaknya perlu dilihat kembali, bukan sekadar diglorifikasi dalam setiap tulisan, pidato, seminar, dan diskusi publik lainnya. Akar-akar sejarah tentu tetap menjadi dasar yang membangun identitas nasional. Justru, hal yang diperlukan saat ini adalah aktualisasinya di tengah zaman yang tidak statis lagi.

Hal inilah yang berusaha dihadirkan dalam buku bunga rampai ini. Sebagai buku yang lahir dari pemikiran langsung para pelakunya, generasi milenial, buku ini menjadi sebuah dasar untuk mengaktualisasikan nasionalisme ala milenial. Terlebih, berbagai aspek yang mendasar dan konkret dalam kehidupan masyarakat turut dibahas di dalamnya sehingga relevansinya semakin terlihat. Sebuah poin plus yang memberi nilai tambah bagi khazanah wawasan pembaca sebagai warga negara-bangsa Indonesia untuk tidak menjadi “kacang lupa kulitnya”, namun juga tidak menjadi “katak dalam tempurung”.

Meski demikian, sebagaimana buku bunga rampai pada umumnya, bukan sebagai monografi utuh, patut diakui bahwa repetisi atau pengulangan terjadi dalam sejumlah bagian. Misal, definisi generasi milenial tidak hanya dibahas dalam Bab II dan Bab III, tetapi juga dalam bab lain. Di samping itu, mengingat buku ini ditulis oleh generasi milenial, para pembaca di luar kalangan generasi milenial agaknya kurang dapat memahami sejumlah konsep dan kasus yang dibicarakan, meskipun target pembaca buku ini adalah masyarakat luas, tidak sekadar mereka yang menyebut diri sebagai generasi milenial.

Terlepas dari itu semua, buku ini hadir sebagai pemantik awal diskusi dan implementasi lebih lanjut atas gagasan “nasionalisme ala milenial” ini. Jika pertanyaan atas relevansi nasionalisme ala milenial cukup terjawab dalam buku ini, pertanyaan atas masa depan nasionalisme ala milenial agaknya masih kabur. Kekaburan inilah yang merupakan ruang kosong untuk diisi dan diartikulasikan lebih lanjut.

Buku ini dapat diakses secara bebas melalui tautan berikut ini: https://lipipress.lipi.go.id/detailpost/nasionalisme-ala-milenial-sebuah-disrupsi

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi