Meneladani Sikap Netral Integritas Ber-ASN Feisal Tamin
Oleh Administrator

Meneladani Sikap Netral Integritas Ber-ASN Feisal Tamin

03 Desember 2020  |  Opini

Jakarta-Jika pada Jumat (27/11) LIPI menggelar webinar nasional tentang peran penerbitan buku ilmiah dalam mendorong publikasi buku bereputasi internasional, maka Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tengah menyelenggarakan seminar nasional “Memperkuat Nilai-Nilai Integritas ASN”. Saya sebagai salah seorang perwakilan dari LIPI—yang merupakan staf di LIPI Press—hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementerian LHK tersebut.

‘Integritas’, salah satu kata dalam tema seminar yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-49 Korpri tersebut, mengandung makna yang teramat luas. Lebih dari satu ilmuwan menyodorkan arti ‘integritas’ menurut pandangan mereka masing-masing. Namun dari segi paling dasar, ‘integritas’ merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Latin, integer, yang berarti teguh mempertahankan prinsip. Tentunya, “prinsip (yang seperti) apa yang harus dipertahankan?” adalah satu dari sekian pertanyaan yang muncul kemudian.

Panitia penyelenggara agaknya sudah sangat siap dengan antisipasi pertanyaan semacam itu. Bedah Buku Feisal Tamin, Benteng Netralitas Aparatur Negara (ASN)—menurut saya—adalah pokok bahasan yang difungsikan sebagai perantara menuju hasil yang ingin dicapai sebagaimana termaktub dalam tema seminar, “Memperkuat Nilai-Nilai Integritas ASN”.

Melalui buku yang ditulis oleh Kristin Samah dalam kurun waktu tiga bulan ini publik seakan diingatkan kembali tentang sepak terjang Feisal Tamin selama masa keaktifannya menjadi seorang abdi negara. Loyalitas kepada etika profesinya dan bekerja tanpa pamrih merupakan dua dari sekian banyak sikap dan prinsip hidup baik yang beliau tampilkan. Dalam sambutannya, beliau mengatakan, “Saya tidak akan menjual kepala saya demi kepentingan apapun selain kepentingan bangsa dan negara. Saya harap, Anda, para generasi sekarang, tidak akan menjual keutuhan jiwa dan raga Anda untuk kepentingan lain selain kepentingan negara,” ujar pria kelahiran Dompu, Sumbawa, 15 Juni 1941 ini.

Ayah dari empat orang anak tersebut menambahkan bahwa sebagai seorang pegawai negeri atau aparatur negara, kita harus selalu menuntut diri untuk bersikap netral. “Tidak memihak kepentingan manapun selain kepentingan negara adalah prinsip utama yang harus dijaga oleh setiap aparatur negara,” imbuh pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001–2004 ini.  

Kenetralan ini teguh beliau tampilkan saat menduduki jabatan apa saja, terlebih ketika hasil musyawarah nasional tahun 1999 mengamanahi beliau sebagai Ketua Umum Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Beliau tegas mengatakan bahwa Korpri adalah organisasi yang netral. Tidak ada lagi anggota Korpri yang masuk partai politik. Anggota Korpri yang masuk dalam satu partai diwajibkan keluar sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Sebagai konsekuensi dari sikap beliau ini, terbit Peraturan Pemerintah (PP) No. 12 Tahun 1999 menggantikan PP nomor 5 Tahun 1999. Sikap netral beliau ini juga akhirnya membawa beliau ke sebuah keputusan besar untuk mundur sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri pada tahun yang sama. Praktis dalam masa kepemimpinannya, Korpri telah menampilkan wajah baru dengan struktur organisasi yang lebih efektif.

Pandangan monodimensi tentang sikap netral Feisal Tamin bukan hanya menurut Feisal semata, melainkan juga datang dari kolega dan sahabat—Prof. Salim Said, Indrajati Sidi, Ph.D., Prof. Ermaya Suryadinata, Prof. Rokhmin Dahuri, dan Prof. Fahri Ali—yang turut hadir sebagai pembahas dalam acara seminar yang dihadiri oleh hampir 1.000 peserta tersebut. Tiap-tiap pembahas mengungkap muatan penjelasan yang hampir sama satu dengan yang lain, hanya dengan sentuhan pengalaman subjektivitas yang berbeda. Testimoni-testimoni tentang kenetralan sikap Feisal Tamin ini menjadi tak berlebihan kiranya jika sebutan “Bapak Netralitas ASN” kemudian disematkan kepadanya.

Saya tak akan membahas capaian dan prestasi beliau lebih jauh lagi karena semua informasi tersebut dapat dengan mudah Anda dapatkan dari sumber media manapun, terlebih dari buku biografi Feisal Tamin sendiri. Namun, dari semua ujaran dan kesaksian pembahas pada saat seminar, dapat saya simpulkan bahwa Feisal Tamin telah melakukan gebrakan-gebrakan baru dalam konstelasi pemerintahan dan birokrasi guna mengubah tatanan struktur organisasi yang statis, yang tidak mencerminkan sikap keberpihakan kepada rakyat, yang berpotensi memboroskan keuangan negara, juga yang tidak menunjukkan sisi efektivitas dan efisiensi sebagai bentuk pelayanan kepada publik.

Pandangan Penulis

Satu hal positif yang saya lihat dari seminar yang diselenggarakan secara online melalui zoom meeting dan offline tepatnya di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta ini adalah pemerintah melalui Kementerian LHK berupaya untuk mengingatkan kita—para ASN—agar senantiasa mengedepankan nilai-nilai ketidakberpihakan terhadap pengaruh maupun kepentingan apapun selain kepentingan yang menyangkut persoalan negara. Sebagai bagian dari keluarga besar Korpri, ASN harus senantiasa fokus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam melayani sebanyak-banyaknya rakyat. Sejumlah 4,2 juta ASN Indonesia harus ‘lurus’, tidak boleh ‘belok’ kanan-kiri sebab dalam ranah yang lebih luas sikap dan tindakan tidak netral berpotensi menjurus pada konstruksi pelemahan NKRI.

Penyelenggaraan seminar ini terasa kian relevan di tengah gejolak kondisi politik menjelang Pilkada yang akan digelar pada 9 Desember mendatang. Dalam sambutannya, Wakil Menteri LHK—Alue Dohong, Ph.D.—mengungkapkan bahwa sikap netral ASN sangat diperlukan dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan NKRI. Ketua Dewan Pimpinan Nasional Korpri, Zudan Arif Fakrulloh, turut menegaskan bahwa Korpri tetap dan akan terus menjunjung tinggi netralitas dalam ber-ASN sebagaimana tagline Korpri “Demokrasi, Profesional, Netral, Sejahtera” seperti yang telah digaungkan sejak masa kepemimpinan Feisal Tamin hingga saat ini.

Bagi saya, kehadiran buku Feisal Tamin, Benteng Netralitas Aparatur Negara serta penyelenggaraan seminar semacam ini tentu memberikan manfaat lebih, khususnya bagi ASN muda generasi sekarang. Selain muatan yang sangat informatif seperti telah terurai sebelumnya, kegiatan ini dapat menjadi bentuk atau wadah pengenalan bagi generasi muda ASN terhadap (ASN) pendahulunya. Bisa jadi nama Feisal Tamin berikut kiprah kedinasannya kurang dikenal oleh generasi ASN zaman sekarang mengingat Feisal telah memasuki masa pensiun lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Pada saat seminar—jika saya tidak luput dalam menyimak—tidak dijelaskan secara spesifik kapan Feisal Tamin purna bakti, tetapi menilik dari usia beliau saat ini dan merunut sejarah kebijakan usia purna tugas pada masa lampau, kemungkinan besar Feisal Tamin merampungkan kewajibannya sebagai PNS pada belasan tahun yang lalu. Ini memungkinkan Feisal Tamin kurang dikenal di era generasi ASN milenial dewasa ini. Melalui kegiatan seminar ini, salah satu figur seorang tokoh panutan ASN diangkat kembali ke permukaan dan mulai diperkenalkan kepada ‘anak dan cucu ASN’-nya. Penulisan buku biografi berikut kiprah kedinasannya semakin memperkuat kedudukan dan posisi Feisal Tamin di mata keluarga besar ASN.

Menguatnya pengetahuan akan sosok Feisal Tamin berikut keberanian di balik sikap netral yang senantiasa beliau tunjukkan dapat menjadi inspirasi dan teladan khusus bagi ASN generasi sesudahnya. Sikap dan prinsip hidup semacam itu merupakan salah satu nilai integritas yang wajib dimiliki oleh setiap ASN sebagai abdi/pelayan rakyat. Dengan demikian, sangat pas rasanya jika penyelenggaraan seminar melalui bedah buku ini merupakan wujud dari upaya konkret pemerintah untuk memperkuat nilai-nilai integritas dalam diri setiap ASN Indonesia. /spd/

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi