Penyusunan Buku Bunga Rampai di Balitbang Perhubungan
Oleh Administrator

Penyusunan Buku Bunga Rampai di Balitbang Perhubungan

30 Juli 2020  |  Berita

Jakarta ­– Publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator kinerja utama dari kegiatan penelitian. Namun, publikasi ilmiah terdiri dari beberapa jenis karya tulis ilmiah (KTI), salah satu di antaranya adalah buku bunga rampai (Edited book). Tidak seperti KTI Jurnal, penulisan buku bunga rampai memiliki ciri dan kaidah-kaidah tertentu yang harus dipenuhi sehingga layak disebut sebagai KTI buku bunga rampai.

Sehubungan dengan itu, pada Senin (27/8) hingga Rabu (29/8), dalam rangka meningkatkan kompetensi para peneliti dalam mengemas publikasi hasil-hasil penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Perhubungan) menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Buku Bunga Rampai. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kelas online zoom meeting dan diikuti oleh 21 peserta dari peneliti di lingkungan Balitbang Perhubungan.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan diseminasi hasil-hasil penelitian melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Balitbang Perhubungan, khususnya para peneliti dalam mengemas pelaporan hasil penelitian dalam bentuk buku bunga rampai. “Selain untuk memenuhi ketentuan 20 jam kerja pembelajaran per tahun bagi peningkatan kompetensi PNS, kegiatan ini utamanya dimaksudkan untuk meningkatkan diseminasi hasil-hasil penelitian Balitbang Perhubungan,” jelas Tri Kusumaning Utami dalam sambutannya yang mewakili Sekretaris Balitbang Perhubungan.

“Melalui kegiatan selama tiga hari ini, diharapkan mampu menjawab berbagai tuntutan akan adanya hasil-hasil penelitian yang optimal, terutama dalam pengemasan pelaporan hasil penelitian. Untuk itu, semoga hasil pelatihan ini benar-benar bisa diaplikasikan sehingga hasil-hasil penelitian dapat lebih terlihat dan dimanfaatkan,” tambah wanita yang juga Kepala Bagian Kepegawaian dan Tata Usaha, Balitbang Perhubungan ini.   

Sementara itu, Fita Kurniawati selaku Kepala Subbagian Pengembangan Pegawai dan Organisasi menyampaikan bahwa “Kegiatan ini diikuti oleh 21 peserta yang terdiri dari peneliti Pusblitbang Transportasi Jalan, Perkeretaapian, Laut, Sungai, dan Penyeberangan Laut dan udara, serta antarmoda. Setiap peserta telah menyiapkan naskah berupa laporan hasil penelitian untuk dibahas dan dikonversi menjadi artikel buku bunga rampai dalam pelatihan kali ini,” jelasnya selaku penanggung jawab pelatihan.

Selain itu, Fita Kurniawati juga menyampaikan harapan agar ke depan buku-buku hasil litbang Kemenhub dapat didiseminasikan secara lebih luas. “Selama ini buku-buku knowledge sharing program dari tiap-tiap puslit di lingkungan balitbang hanya terdistribusi terbatas, seperti sekolah-sekolah kedinasan, pengunjung pameran, atau pihak-pihak yang meminta langsung. Kita berharap, ke depan produk hasil-hasil litbang kemenhub dapat didiseminasikan secara lebih luas, salah satunya melalui kerja sama penerbitan dengan LIPI Press,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, hadir dua editor LIPI Press sebagai fasilitator pelatihan. Di hari pertama peserta diberikan informasi mengenai Jenis, Bentuk, dan Cakupan KTI; Perbedaan Jenis dan Sistematika Buku Ilmiah (monograf) dan buku bunga rampai (Edited book); Prinsip Penyusunan Buku Bunga Rampai (Edited book); dan kiat-kita mengonversi laporan penelitian menjadi naskah buku; serta praktik menyusun ragangan dan manuskrip artikel bunga rampai.

Dalam paparannya, Fadly Suhendra selaku fasilitator menekankan pentingnya pemahaman tentang publikasi ilmiah dalam bentuk terbitan buku. “Setiap publikasi ilmiah memiliki bentuk, format, dan tata cara penulisan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan naskah buku, secara prinsip harus memenuhi kelengkapan anatomi buku. Apalagi untuk buku yang ditulis lebih dari satu orang, penting untuk melihat bagaimana penulisan dan sistematikanya, substansinya, dan keterkaitan setiap artikel dengan pokok permasalahannya,” jelas editor LIPI Press ini.

Menurutnya, terbitan bunga rampai atau bagian dari buku bukanlah sekadar kumpulan tulisan artikel yang disusun menjadi satu. “Sebuah bunga rampai harus memiliki informasi yang jelas, topik dan permasalahan apa yang ingin dijawab, organisasi penulisan yang koheren dan konsisten, serta setiap artikel terintegrasi dengan baik, bukan hanya sekadar kumpulan bab yang dikait-kaitkan tanpa adanya satu topik yang sama,” tambahnya. 

“Oleh karena itu, dalam menyusun sebuah buku bunga rampai harus ditentukan Editor terlebih dahulu. Karena editor harus terlibat sepanjang proses penerbitan. Editor dalam sebuah buku bunga rampai adalah “kunci”, mulai dari perencanaan, penyusunan, hingga ke pengeditan akhir dari masing-masing bab yang ditulis oleh orang berbeda. Bagi sebuah penerbit, Editor Bunga Rampai adalah “Pusat” informasi untuk semua kontributor dan isi tulisannya. Jadi, Editor Bunga Rampai tidak bisa ditunjuk setelah tema dan naskah terkumpul,” tegas Fadly. 

Namun, menurut Editor yang juga menjadi ketua Forum Pranata Humas LIPI ini, terdapat dua pendekatan dalam menyusun sebuah buku bunga rampai. “Pertama, Editor mengumpulkan artikel dengan topik tertentu dari berbagai penulis. Kemudian Editor tersebut menyusun dan menyuntingnya sehingga menjadi sebuah publikasi yang membahas suatu topik atau permasalahan yang ditulis secara bersama-sama dalam bentuk buku. Kedua, Editor merancang suatu topik terlebih dahulu, kemudian meminta spesialis/pakar yang berbeda untuk menulis bagian pada setiap subtopik yang telah ditentukan,” jelas Fadly editor lulusan Editing Unpad ini.

Selanjutnya, Martinus Helmiawan staf editor LIPI Press yang juga menjadi fasilitator menyampaikan materi terkait jenis dan bentuk bunga rampai. Pada sesi ini, peserta ditunjukkan contoh-contoh jenis dan bentuk bunga rampai sehingga bisa menjadi referensi dalam mengemas hasil penelitian. Setelah itu, peserta diminta menyusun dan mengonversi laporan penelitian menjadi naskah artikel buku bunga rampai.    

Di hari kedua dan ketiga peserta diminta memaparkan draf naskah artikel bunga rampai. Berdasarkan paparan tersebut, dirumuskan dua judul buku bunga rampai yang akan diterbitkan.

Di penghujung acara, peserta diberikan materi mengenai penyuntingan naskah beserta contoh-contoh kasus yang sering ditemukan dalam sebuah buku bunga rampai. Materi penyuntingan naskah ini diberikan sebagai bekal penulis untuk melakukan swasunting sebelum mengirimkan naskah ke penerbit.*/mfs    

 

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi