Semangat Lokakarya Perkuat Etos Kerja LIPI Press
Oleh Administrator

Semangat Lokakarya Perkuat Etos Kerja LIPI Press

03 Mei 2016  |  Berita

Cibodas - Adanya perubahan kebijakan dan regulasi terkait standar publikasi ilmiah, telah mendorong LIPI Press untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan penerbitnya sesuai konsep total solusi layanan penerbitan ilmiah. Hal tersebut dilakukan demi memberikan kepastian serta meningkatkan kinerja layanan penerbitan ilmiah sesuai dengan kebutuhan pengguna layanan dan selaras dengan kemampuan penyelenggara sehingga mendapatkan kepercayaan dari segenap pihak.

Terlebih pemerintah saat ini telah menggulirkan gerakan revolusi mental untuk meningkatkan integritas, etos kerja, dan gotong royong. Gerakan tersebut harus diikuti oleh seluruh kementerian/lembaga beserta aparaturnya dalam konteks memperbaiki karakter dan kinerja kementerian/lembaga itu sendiri. Peningkatan etos kerja itu sendiri sejatinya mutlak dilakukan, mengingat sejak tahun 2015, LIPI telah mampu meningkatkan nilai Reformasi Birokrasi (RB) dari target 65 menjadi 66,70. Dengan kenaikan nilai RB ini, LIPI telah dianggap mempunyai kondisi yang mendekati ideal menuju ke arah organisasi LIPI dengan kinerja yang lebih baik.

Sebagai upaya meningkatkan kinerja layanan penerbitan ilmiah yang sejalan dengan program gerakan revolusi mental maka pada Rabu (20/04) LIPI Press menggelar seminar dan diskusi terkait penguatan etos kerja. Pemaparan materi etos kerja tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan Lokakarya LIPI Press 2016 yang berpusat di Villa Medinila, Kebun Raya CIbodas. Dr. Bagus Riyono, M.A. bertindak sebagai pemateri dalam seminar yang berlangsung pukul 11.30-15.30 WIB ini.

Dalam paparannya, pemateri yang merupakan dosen psikologi industri dan organisasi UGM ini mendefinisikan etos kerja sebagai semangat tinggi dalam bekerja, memiliki komitmen yang konsisten, dan peduli pada kualitas serta hasil yang optimal. Sedangkan untuk membentuk etos kerja yang optimal, dapat dicapai melalui tiga hal, yakni: (1) memahami hakekat kehidupan; (2) menghayati karakteristik dasar manusia; dan (3) mampu mengelola sikap kerja positif.

Pemaparan hakekat kehidupan dirumuskan ke dalam teori RUH, yakni Risk (resiko), Uncertainty (ketidakpastian), dan Hope (harapan). Bahwa kehidupan menawarkan ketidakpastian dan untuk menghadapinya diperlukan suatu perencanaan yang baik (fleksibel) dengan mempertimbangkan risiko yang muncul sehingga mampu menghadapi segala perubahan yang terjadi. Sikap pantang menyerah dan terus maju muncul untuk mewujudkan harapan dari peluang tak terbatas sebagai implikasi dari sebuah ketidakpastian.

Dalam tataran membangun kesadaran etos kerja, peserta seminar mendapat penekanan akan penghayatan terhadap pekerjaannya saat ini. Peserta diajak untuk mengelola pemahamannya akan pekerjaan sebagai sesuatu yang berorientasi pada hal-hal yang bermakna (meaningful). Bahwa bekerja bukan semata-mata berorientasi pada materi, tapi lebih dari itu, peserta diajak menghayati pekerjaannya sebagai sebuah bentuk kontribusi dalam mewujudkan tujuan yang lebih besar dan bermakna, tidak hanya secara material tapi juga spiritual. Hal tersebut membuat setiap individu dengan pemahaman demikian mampu menikmati pekerjaan serta ikhlas yang nantinya akan berujung pada peningkatan etos kerja.

Pada akhir sesi seminar, ditarik kesimpulan bahwa etos kerja sendiri adalah sebuah pilihan dan tidak bisa didasarkan pada paksaan. Kesadaran etos kerja dibangun karena keyakinan terhadap harapan, sebagai jalan untuk menghadapi ketidakpastian kehidupan, yang bisa dicapai melalui trust, respect, care, learn, dan contribute.

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi