Tingkatkan Kualitas Terbitan Buku, Perpustakaan BNN Gandeng LIPI Press
Oleh Administrator

Tingkatkan Kualitas Terbitan Buku, Perpustakaan BNN Gandeng LIPI Press

18 Desember 2018  |  Berita

Jakarta – Selasa (18/12) LIPI Press mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan dalam proses penulisan dan penerbitan buku pada acara “Sosialisasi Tata Penulisan Buku” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Badan Narkotika Nasional (BNN). Kegiatan tersebut bertempat di Ruang VIP Lantai 1, Gedung BNN Jakarta dan diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari berbagai satuan kerja yang ada di lingkungan BNN.

Sebagai salah satu lembaga Non Kementerian, BNN telah banyak menghasilkan buku-buku bertemakan Narkoba yang disebarkan kepada masyarakat. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hasil terbitan BNN melalui penerbitan buku yang memiliki standar dan ciri khas dengan penyajian isi buku yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Purwadani Puspita Melani dalam sambutannya mengatakan bahwa “hal ini diperlukan karena penerbitan buku-buku atau bahan-bahan tulisan yang dilakukan BNN akan disampaikan kepada masyarakat sebagai alat sosialisasi BNN mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba,” tegas Kepala Subbagian Dokumentasi dan Perpustakaan BNN ini.  

Pada kegiatan tersebut, LIPI Press yang diwakili oleh Fadly Suhendra mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan materi mengenai “penulisan dan penerbitan buku”. Dalam paparannya, Fadly menekankan bahwa sebuah publikasi dalam bentuk buku, dapat dikatakan sebuah buku jika telah memenuhi kelengkapan dan sistematika buku. “Secara fisik mungkin bentuknya buku, tetapi secara format mungkin belum dapat dikatakan sebuah buku,“ tegas editor LIPI Press ini. Menurutnya, layaknya tubuh manusia, sebuah buku juga memiliki anatomi yang harus dipahami sebelum kita menerbitkan sebuah buku.

Editor yang juga menjabat sebagai fungsional Pranata Humas Muda ini menambahkan bahwa “anatomi sebuah buku terdiri atas tiga bagian utama, yaitu Bahan Awal (Preliminaries), Bahan Isi (Text Matter), dan Bahan Akhir (Postliminaries). Setiap bagian memiliki peran dan fungsi yang mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang telah berlaku umum dalam dunia penerbitan buku,” tambahnya.

Selain itu, Fadly juga menekankan pentingnya memahami dan mengenali siapa pembaca sasaran dari publikasi yang akan kita terbitkan. Hal ini selain akan berkaitan dengan bentuk publikasi juga akan berpengaruh dengan penyajian desain dan bahasa yang akan digunakan. Tujuannya, agar buku-buku yang kita terbitkan dapat nyaman dibaca dan bertemu dengan pembaca yang tepat dan sesuai dengan peruntukannya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Subbagian Dokumentasi dan Perpustakaan BNN ini juga mengundang Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang diwakilkan oleh Sri Marganingsih selaku Kasubdir Deposit Perpusnas. Beliau menyampaikan materi terkait Undang-Undang No. 4 Tahun 1990 Tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam yang saat ini sedang dalam tahap perubahan. Materi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran satuan kerja di lingkungan BNN melalui para pegawainya, yakni akan adanya kewajiban serah simpan karya cetak dan karya rekam (SSKCKR). Hal ini berkaitan dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) melalui sidang paripurna kesembilan DPR RI pada Senin, 3 Desember 2018.

Dengan adanya undang-undang serah simpan karya cetak dan karya rekam (SSKCKR) tersebut, peranan Perpustakaan BNN sangat dibutuhkan karena memiliki kewenangan dalam menginventarisasi semua hasil karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan oleh satuan kerja dan pegawai yang ada di lingkungan BNN.  Dalam hal ini, Perpustakaan BNN berfungsi sebagai “jembatan” penghubung antara satuan kerja dan pegawai BNN dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) selaku leading sector serah simpan karya cetak dan karya rekam.*/ mfs 

 

 

  

 

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi