Titik Harap Iptek Tanpa Diskriminasi Gender
Oleh Administrator

Titik Harap Iptek Tanpa Diskriminasi Gender

20 Mei 2021  |  Resensi

Titik Harap Iptek Tanpa Diskriminasi Gender

Oleh: Rafika Wahyu Andani

 

Judul Buku: Kesetaraan Gender dalam Pelaku Iptek, Mungkinkah?

Penulis: Andi Misbahul Pratiwi, Anggini Dinaseviani, Ardanareswari Ayu Pitaloka, Indri Juwita Asmara, Ishelina Rosaira, Nahiyah Jaidi Faraz, Nani Grace Simamora, Sigit Setiawan, Wati Hermawati, dan Widjajanti M. Santoso

Penerbit: LIPI Press

Tahun Terbit: 2020

Jumlah Halaman: xxvii + 324 halaman

ISBN: 978-602-496-174-9 (e-book), 978-60-496-174-9 (cetak)                 

Sebagai tujuan nomor lima dalam Sustainable Development Goals (SDGs), bahasan mengenai kesetaraan gender masih menjadi kajian menarik bahkan dalam forum mewah sekelas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pun buku dan penelitian yang membahas topik ini semakin bertambah banyak jumlahnya. Bunga rampai yang berjudul Kesetaraan Gender dalam Pelaku Iptek, Mungkinkah? ini hadir untuk memberikan kontribusi dalam memperkaya pembaca dengan perspektif dan pengetahuan yang diramu secara khusus oleh para peneliti LIPI. Himpunan data dan teori disajikan melalui kalimat-kalimat lugas dengan diksi yang mudah dipahami sehingga membuat bunga rampai ini dapat dinikmati oleh masyarakat umum dengan latar belakang pendidikan apa pun. Penulis memberikan kesempatan bagi pembaca untuk membuat kesimpulan sendiri dengan memaparkan fakta-fakta yang diracik sedemikin rupa tanpa memberi kesan menggiring opini.

Buku ini menggambarkan status pencapaian kesetaraan gender dalam iptek sekaligus memperlihatkan kesenjangan gender dalam kegiatan iptek di Indonesia secara nyata. Misalnya, untuk menunjukkan kesenjangan gender yang ada di sektor publik, penulis menyajikan hasil wawancara dengan Aparatur Sipir Negara (ASN) yang ada di bab lima. Analisis karier perempuan sebagai ASN dilakukan setelah menghimpun hasil wawancara dengan beberapa ASN perempuan dan laki-laki. Keberadaan aturan atau kebijakan pemerintah tidak membuat praktik kesenjangan gender luntur begitu saja, kenyataan yang ada berbeda jauh dengan tujuan yang ingin dicapai oleh para pembuat kebijakan. “Tim kami membutuhkan laki-laki karena perlu bekerja lewat waktu kerja. Lagian kami sudah banyak perempuan, jadi susah kalau ada proyek. Bisa jadi delay pekerjaannya. Ternyata yang melamar banyak perempuan, makanya dalam diskusi pimpinan kami putuskan untuk langsung mengambil laki-laki,” (halaman 146). Perangkap glass ceiling akibat sistem sosial yang bias gender sering kali disepelekan dan tidak disadari. Perempuan yang sudah terjebak pada akhirnya menganggap praktik kesenjangan gender adalah lumrah.

Narasi gender dan feminisme dalam perspektif historis disajikan untuk membuka wawasan awal bahwa upaya kesetaraan gender tidak sama dengan upaya yang diusung feminisme. Penjelasan mengenai feminisme dan perbedaannya dengan gender di bab dua digunakan sebagai pengantar pada bab-bab berikutnya yang menunjukkan penggunaan standpoint perempuan. Untuk dapat memperkaya perspektif mengenai kesetaraan gender di dalam iptek, bunga rampai ini menghadirkan tujuh studi kasus yang bertabur data mulai dari kesenjangan gender dalam usaha kecil jamu tradisional hingga kesenjangan gender di sektor ekonomi digital. Dengan demikian, pembaca dapat mengetahui kesenjangan gender dalam pemanfaatan teknologi rendah hingga teknologi tinggi.

Paradoks pencapaian kesetaraan gender sekaligus bukti kesenjangan gender disajikan dengan hasil wawancara, sehingga argumen yang disampaikan penulis pada bab ketiga, keempat, kelima, dan bab ketujuh semakin akurat. Sayangnya, dalam dua dari tiga studi kasus di sektor iptek yang diberikan tidak menggunakan wawancara sehingga penulis tidak dapat menunjukkan bukti kesenjangan gender dari sisi pelaku seakurat studi kasus lainnya. Data yang disajikan pada tiap studi kasus memberikan bukti bahwa angka partisipasi perempuan dalam bidang-bidang yang dianggap maskulin mengalami peningkatan. Namun, untuk dapat terjun dan berkiprah dalam bidang yang identik dengan maskulinitas, seorang perempuan harus bekerja lebih keras dari laki-laki untuk mendapatkan pengakuan. Keberadaan glass ceiling yang tidak disadari hingga membuat perempuan terjebak dalam kesenjangan gender terlihat ketika para narasumber mengatakan bahwa ada pembedaan tugas berdasarkan jenis kelamin yang mereka amini karena laki-laki dianggap lebih mampu.

Bunga rampai ini menyimpan banyak ilmu yang disampaikan secara langsung oleh pakar di bidangnya. Meskipun tidak semua studi kasus mencantumkan hasil wawancara, data yang disajikan sudah lebih dari cukup untuk memperkuat argumen. Banyak hal mengejutkan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari, seperti glass ceiling, adanya pembedaan tugas berdasarkan seksual, serta konstruksi sosial yang secara tidak sadar membuat perempuan kesulitan untuk berkicampung di ruang publik. Pemaparan soal tantangan kesetaraan gender juga diiringi dengan solusi-solusi yang dapat diterapkan untuk mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi gender. Buku ini secara lugas ingin menunjukkan titik harap iptek tanpa diskriminasi gender.

Buku ini dapat dibaca secara bebas melalui laman https://lipipress.lipi.go.id/detailpost/kesetaraan-gender-dalam-pelaku-iptek-mungkinkah.

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi